EKSISTENSI LAILATUL QODAR ; TURUNNYA AL-QUR’AN DAN MALAIKAT
Oleh : PUJIANTO, S.Th.I
Penyuluh
Agama Islam
KUA Kec.
Ngetos – Kantor Kementerian Agama Kabupaten Nganjuk
Tahun 2021
Berdasarkan keterangan Al-Qur’an dan As-Sunnah, disebutkan bahwa
dalam bulan Ramadhan terdapat suatu malam yang nilainya lebih baik dari seribu
bulan. Malam yang indah itu disebut Lailatul Qadar atau malam kemuliaan. Bila
seorang muslim mengerjakan kebaikan-kebaikan di malam itu, maka nilainya lebih
baik dari mengerjakan kebaikan selama seribu bulan atau sekitar 83 tahun sampai
84 tahun.
Malam indah yang lebih baik dari seribu bulan itu adalah malam
yang penuh berkah, malam yang mulia dan memiliki keistimewaan-keistimewaan
tersendiri. Syekh Muhammad Abduh memaknai kata “al-Qadar” dengan kata “takdir”.
Ia berpendapat demikian, karena Allah s.w.t. pada malam itu mentakdirkan
agama-Nya dan menetapkan khittah untuk Nabi-Nya, dalam menyeru umat manusia ke
jalan yang benar. Khittah yang dijalani itu, sekaligus melepaskan umat manusia
dari kerusakan dan kehancuran yang waktu itu sedang membelenggu mereka. (Hasbi
Ash Shiddieqy, 1996: 247).
إِنَّآ أَنزَلۡنَٰهُ فِي لَيۡلَةِ
ٱلۡقَدۡرِ وَمَآ أَدۡرَىٰكَ مَا لَيۡلَةُ ٱلۡقَدۡرِ لَيۡلَةُ ٱلۡقَدۡرِ لَيۡلَةُ
ٱلۡقَدۡرِ خَيۡرٞ مِّنۡ أَلۡفِ شَهۡرٖ تَنَزَّلُ ٱلۡمَلَٰٓئِكَةُ بِإِذۡنِ
رَبِّهِم مِّن كُلِّ أَمۡرٖ سَلَٰمٌ هِيَ حَتَّىٰ مَطۡلَعِ ٱلۡفَجۡرِ
“Sesungguhnya Kami telah menurunkan Al-Qur’an pada malam kemuliaan.
Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik
dari seribu bulan. Pada malam itu turun para malaikat dan malaikat Jibril
dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu penuh
kesejahteraan sampai terbit fajar.” (QS. al-Qadr, [97]: 1–5).
Keagungan dan keistimewaan malam
Qadar pada dasarnya terletak dalam dua kemuliaan, yaitu turunnya Al-Qur’an
(nuzulul qur’an) itu sendiri dan turunnya para malaikat dalam jumlah yang
besar, termasuk di dalamnya malaikat Jibril. Para malaikat turun di malam itu
dengan cahaya yang cemerlang, dengan penuh kedamaian dan kesejahteraan.
Kedatangan mereka adalah untuk menyampaikan ucapan selamat
kepada orang yang melaksanakan puasa Ramadhan dan melaksanakan ibadah lainnya.
Kemuliaan turunnya al-Qur’an, merupakan hari yang agung dan bersejarah,
turunnya kitab suci itu merupakan titik awal dimulainya suatu kehidupan “Dunia
Baru” yang terlepas dari kesesatan dan kezaliman, menuju kebenaran yang hakiki.
Mengenai ketentuan waktu kapan malam Qadar itu terjadi, tidak
ada ketetapan secara pasti dalam tanggal-tanggal Ramadhan. Akan tetapi kalau
dianalisa dan difahami dari surat al-Qadr tersebut dan dikaitkan dengan ayat
185 surat al-Baqarah:
شَهۡرُ رَمَضَانَ ٱلَّذِيٓ أُنزِلَ فِيهِ
ٱلۡقُرۡءَانُ هُدٗى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَٰتٖ مِّنَ ٱلۡهُدَىٰ وَٱلۡفُرۡقَانِۚ
فَمَن شَهِدَ مِنكُمُ ٱلشَّهۡرَ فَلۡيَصُمۡهُۖ وَمَن كَانَ مَرِيضًا
أَوۡ عَلَىٰ سَفَرٖ فَعِدَّةٞ مِّنۡ أَيَّامٍ أُخَرَۗ يُرِيدُ ٱللَّهُ بِكُمُ
ٱلۡيُسۡرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ ٱلۡعُسۡرَ وَلِتُكۡمِلُواْ ٱلۡعِدَّةَ
وَلِتُكَبِّرُواْ ٱللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَىٰكُمۡ وَلَعَلَّكُمۡ
تَشۡكُرُونَ
Beberapa hari yang ditentukan itu
ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) al-Quran
sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu
dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di
antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, Maka hendaklah ia
berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka),
Maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada
hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki
kesukaran bagimu. dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu
mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu
bersyukur. (QS. al-Baqarah, 2: 185)
Tidak menghendaki kesukaran
bagimu. dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu
mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu
bersyukur. (QS. al-Baqarah, 2: 185)
Dari
kaitan keduanya, mudah ditarik kesimpulan, bahwa Al-Qur’an turun pada malam
Qadar dan Al- Qur’an turun pada bulan Ramadhan, maka malam Qadar pun berada
pada bulan Ramadhan. Kajian berikutnya adalah mengenai terjadinya malam itu, pada
tanggal berapa dalam bulan Ramadhan?
Tentang hal ini
dijumpai beberapa riwayat yang satu dengan lainnya berbeda, karena itu tidak
dapat dipastikan. Namun demikian, Nabi mengisyaratkan bahwa malam Qadar itu
terjadi pada hari-hari sepuluh yang akhir dari bulan Ramadhan.
Dalam riwayat
lain disebutkan bahwa malam yang dinantikan itu jatuh pada tanggal-tanggal
ganjil dari sepuluh hari tersebut.
Menurut
pandangan beberapa sahabat, bahwa malam Qadar jatuh pada tanggal 27 Ramadhan.
Pendapat itu didukung oleh Ubay Ibn Ka’ab r.a, Ibnu Abbas r.a. dan Ibnu Umar
r.,a. Sebagian ulama berpendapat bahwa malam kemuliaan itu berpindah-pindah
dalam sepuluh malam yang terakhir dari bulan Ramadhan. Sebagian lainnya
berpendapat bahwa malam itu pasti terjadi pada salah satu tanggal dari bulan
Ramadhan. Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan Muslim
disebutkan, bahwa malam Qadar terjadi pada malam-malam ganjil dari sepuluh hari
terakhir dari bulan Ramadhan, Nabi s.a.w. bersabda:
عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِي
الْوِتْرِ مِنْ الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ
Dari Aisyah r.a. ia
menuturkan, “Sesungguhnya Rasulullah s.a.w. bersabda, “Carilah malam Qadar pada
malam-malam ganjil pada sepuluh terakhir bulan Ramadhan”. (Hadis Shahih, riwayat
al-Bukhari: 1878 dan Muslim: 1998)
سَمِعْتُ ابْنَ عُمَرَ يُحَدِّثُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ قَالَ مَنْ كَانَ
مُتَحَرِّيَهَا فَلْيَتَحَرَّهَا فِي لَيْلَةِ سَبْعٍ وَعِشْرِينَ
Aku mendengar Ibn Umar r.a.
menceritakan hadis dari Nabi s.a.w. tentang malam Qadar, beliau bersabda,
“siapa yang mau mencarinya, maka carilah ia pada malam tanggal 27 Ramadhan”.(Hadis Hasan, riwayat Ahmad:
4577)
Sahabat Ibnu Umar meriwayatkan
hadis yang lebih umum, yaitu pada sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan,
semua malamnya bukan hanya di malam yang ganjil saja. Nabi s.a.w. bersabda:
الْتَمِسُوهَا فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ يَعْنِي لَيْلَةَ
الْقَدْرِ فَإِنْ ضَعُفَ أَحَدُكُمْ أَوْ عَجَزَ فَلَا يُغْلَبَنَّ عَلَى
السَّبْعِ الْبَوَاقِي
“Carilah Lailatul Qadar pada
sepuluh hari yang terakhir dari bulan Ramadhan. Bila salah seorang di antaramu
merasakan lemah atau lelah, maka jangan kamu kalah dalam mencarinya pada tujuh
malam terakhir (bulan Ramadhan)”. (Hadis Shahih, riwayat Muslim:
1989).
Hadis yang diriwayatkan Ibnu
Umar menyebutkan, bahwa malam Qadar jatuh pada tanggal 27 Ramadhan, sesuai
dengan sabda Nabi Muhammad s.a.w.:
سَمِعْتُ ابْنَ عُمَرَ يُحَدِّثُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ قَالَ مَنْ كَانَ
مُتَحَرِّيَهَا فَلْيَتَحَرَّهَا فِي لَيْلَةِ سَبْعٍ وَعِشْرِينَ
Aku mendengar Ibn Umar r.a.
menceritakan hadis dari Nabi s.a.w. tentang malam Qadar, beliau bersabda,
“siapa yang mau mencarinya, maka carilah ia pada malam tanggal 27 Ramadhan”.(Hadis Hasan, riwayat Ahmad:
4577)
Kemuliaan malam Qadar banyak
dijelaskan hadis Nabi s.a.w. antara lain:
عَنْ عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ أَنَّهُ سَأَلَ رَسُولَ اللَّهِ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ لَيْلَةِ الْقَدْرِ فَقَالَ رَسُولُ
اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي رَمَضَانَ
فَالْتَمِسُوهَا فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ فَإِنَّهَا فِي وَتْرٍ فِي إِحْدَى
وَعِشْرِينَ أَوْ ثَلَاثٍ وَعِشْرِينَ أَوْ خَمْسٍ وَعِشْرِينَ أَوْ
سَبْعٍ وَعِشْرِينَ أَوْ تِسْعٍ وَعِشْرِينَ أَوْ فِي آخِرِ لَيْلَةٍ فَمَنْ
قَامَهَا ابْتِغَاءَهَا إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا ثُمَّ وُفِّقَتْ لَهُ غُفِرَ
لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَمَا تَأَخَّرَ
Dari Ubadah bin Shamit r.a.
sesungguhnya ia bertanya kepada Rasulullah s.a.w. mengenai malam Qadar.
Rasulullah s.a.w. menjawab, “(Ia berada) dalam bulan Ramadhan, maka carilah
malam tersebut pada sepuluh yang akhir, yaitu pada malam-malam ganjil; malam
tanggal 21, atau 23, atau 25, atau 27, atau 29, atau malam terakhir Ramadhan.
Siapa yang mengerjakan ibadah (qiyam) pada malam itu dengan penuh keimanan dan
keikhlasan, maka diampuni dosa-dosanya pada masa lalu dan masa yang akan
datang”. (Hadis hasan riwayat Ahmad: 21654).
Abu Hurairah r.a. meriwayatkan
hadis dari Nabi s.a.w.
مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ
لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ. وَمَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا
غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
“Siapa yang mengerjakan ibadah
pada malam Qadar dengan iman dan ikhlas, maka diampuni dosanya yang telah lalu.
Dan siapa yang berpuasa di bulan Ramadhan, dengan iman dan ikhlas, maka
diampuni dosanya yang telah lalu”. (Hadis Shahih, riwayat
al-Bukhari: 1768 dan Muslim: 1268).

Tidak ada komentar:
Posting Komentar