Jumat, 27 November 2020

HISTORIS DAN HIKMAH MAULUD NABI MUHAMMAD

                             HISTORIS DAN HIKMAH MAULUD NABI MUHAMMAD



Oleh : PUJIANTO, S.Th.I

Penyuluh Agama Islam KUA Kec. Ngetos

Kantor Kementerian Agama Kabupaten Nganjuk

Tahun 2020


Maulid Nabi Muhammad SAW adalah hari dilahirkannya nabi Agung baginda nabi Muhammad SAW tanggal 12 Rabiul Awal hari senin tahun gajah. Dinamakan tahun gajah karena tepat kelahiran beliau pasukan gajah yang dipimpin oleh Raja Abrahah menyerang kota Mekah dan menghancurkan Ka’bah. Bahkan disebagian literatur yang lain, Raja Abrahah menginginkan untuk memindahkan Ka’bah ke Yaman dimana dia memerintah dengan alasan karena merasa iri dengan kota Mekah yang setiap saat banyak orang berdatangan baik untuk menunaikan ibadah maupun sebagai pusat perdagangan.

Peringatan maulid Nabi Muhammad Saw di Indonesia bahkan di beberapa Negara yang lain pun sudah menjadi habit atau kebiasaan di setiap tahunnya. Akan tetapi sebagian ulama ada yang berpendapat bahwa hukumnya adalah bid’ah karena beralasan tidak ada sumber yang jelas sanad hadistnya. Terlepas dari hukumnya tersebut bukan menjadi bahasan penulis saat ini, silahkan bisa dibuka penjelasan dari Ustadz DR. H. Abdul Somad, Lc, MA dalam bukunya 37 Masalah Populer “masalah ke 33” halaman 195 sudah sangat jelas beliau paparkan terkait hal itu. Adapun penulis sendiri lahir dan dibesarkan di wilayah yang biasa melaksanakan peringatan hari besar Islam ini.

Sejarah terkait awal mula Maulid Nabi pun berbeda-beda, diantaranya : pertama, perayaan Maulid diadakan oleh kalangan Dinasti Ubaid (Fathimi) di Mesir yang berhaluan Syiah Ismailiyah (Rafidhah). Kedua, Maulid Nabi berasal dari kalangan ahlus sunnah oleh Gubernur Irbil di wilayah Irak, Sultan Abu Said Muzhaffar Kukabri. Ketiga, perayaan Maulid Nabi diadakan pertama kali oleh Sultan Shalahuddin Al Ayyubi. Pertama kalinya peringatan Maulid Nabi ini ada pada point ketiga yaitu pada masa Sultan Shalahudin Al Ayyubi dengan tujuan untuk membangkitkan semangat juang kaum muslimin dalam perang salib melawan kaum kafir Eropa dalam merebut kembali Kota Yerussalem di Palestina.

Kata Maulid itu sendiri diambil dari bahasa arab walada – yalidu (ولد يلد) artinya kelahiran, Maulid Nabi artinya hari dimana dilahirkannya baginda Nabi Muhammad Saw. Menurut keterangan dari al-Maqrizy dalam kitabnya yang berjudul al Khathat, perayaan Maulid dimulai ketika zaman Daulah Fatimiyah syiah di Mesir. Mereka membuat banyak acara perayaan Maulid, seperti Maulid Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Maulid 'Ali bin Abi Thalib, maulid Fatimah binti 'Ali, hingga maulid Hasan bin 'Ali dan Husain bin 'Ali. Bani Fatimiyah ini berkuasa sekitar abad 4 H.

             Sedangkan menurut sumber lain Maulid dikembangkan oleh Abul al-Abbas al-Azafi. Para ahli sejarah, seperti Ibn Khallikan, Sibth Ibn Al-Jauzi, Ibn Kathir, Al-Hafizh Al-Sakhawi, Al-Hafizh Al-Suyuthi dan lainnya telah sepakat menyatakan bahwa orang yang pertama kali mengadakan peringatan maulid adalah Sultan Al-Muzhaffar. Namun juga terdapat pihak lain yang mengatakan bahwa Sultan Salahuddin Al-Ayyubi adalah orang yang pertama kali mengadakan Maulid Nabi. Sultan Salahuddin pada kala itu membuat perayaan Maulid dengan tujuan membangkitkan semangat umat islam yang telah padam untuk kembali berjihad dalam membela islam pada masa Perang Salib.

Ahmad bin ‘Abdul Halim Al Haroni rahimahullah mengatakan,

صَلَاحِ الدِّينِ الَّذِي فَتَحَ مِصْرَ ؛ فَأَزَالَ عَنْهَا دَعْوَةَ العبيديين مِنْ الْقَرَامِطَةِ الْبَاطِنِيَّةِ وَأَظْهَرَ فِيهَا شَرَائِعَ الْإِسْلَامِ

Artinya:

Sholahuddin-lah yang menaklukkan Mesir. Dia menghapus dakwah ‘Ubaidiyyun yang menganut aliran Qoromithoh Bathiniyyah (aliran yang jelas sesatnya, pen). Shalahuddin-lah yang menghidupkan syari’at Islam di kala itu.

Dalam perkataan lainnya, Ahmad bin ‘Abdul Halim Al Haroni rahimahullah mengatakan,

فَتَحَهَا مُلُوكُ السُّنَّة مِثْلُ صَلَاحِ الدِّينِ وَظَهَرَتْ فِيهَا كَلِمَةُ السُّنَّةِ الْمُخَالِفَةُ لِلرَّافِضَةِ ثُمَّ صَارَ الْعِلْمُ وَالسُّنَّةُ يَكْثُرُ بِهَا وَيَظْهَرُ

Artinya:

Negeri Mesir kemudian ditaklukkan oleh raja yang berpegang teguh dengan Sunnah yaitu Shalahuddin. Dia yang menampakkan ajaran Nabi yang shahih di kala itu, berseberangan dengan ajaran Rafidhah (Syi’ah). Pada masa dia, akhirnya ilmu dan ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam semakin terbesar luas.

Sumber lain mengatakan perayaan Maulid yang sebenarnya diprakarsai oleh Dinasti Fatimiyyun sebagaimana dinyatakan oleh banyak ahli sejarah. Berikut perkataan ahli sejarah mengenai Maulid Nabi. Al Maqriziy, seorang pakar sejarah mengatakan, “Para khalifah Fatimiyyun memiliki banyak perayaan sepanjang tahun. Ada perayaan tahun baru, hari ‘Asyura, maulid (hari kelahiran) Nabi, maulid Ali bin Abi Thalib, maulid Hasan dan Husain, maulid Fatimah az-Zahra, maulid khalifah yang sedang berkuasa, perayaan malam pertama bulan Rajab, perayaan malam pertengahan bulan Rajab, perayaan malam pertama bulan Sya’ban, perayaan malam pertengahan bulan Rajab, perayaan malam pertama bulan Ramadhan, perayaan malam penutup Ramadhan, perayaan ‘Idul Fithri, perayaan ‘Idul Adha, perayaan ‘Idul Ghadir, perayaan musim dingin dan musim panas, perayaan malam Al Kholij, hari Nauruz (Tahun Baru Persia), hari Al Ghottos, hari Milad (Natal), hari Al Khomisul ‘Adas (3 hari sebelum paskah), dan hari Rukubaat.”

Asy Syaikh Bakhit Al Muti’iy, mufti negeri Mesir dalam kitabnya mengatakan bahwa yang pertama kali mengadakan enam perayaan maulid yaitu: perayaan Maulid (hari kelahiran) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maulid ‘Ali, maulid Fatimah, maulid Al Hasan, maulid Al Husain –radhiyallahu ‘anhum- dan maulid khalifah yang berkuasa saat itu yaitu Al Mu’izh Lidinillah (keturunan ‘Ubaidillah dari dinasti Fatimiyyun) pada tahun 362 H. Begitu pula Asy Syaikh ‘Ali Mahfuzh dalam kitabnya Al Ibda’ fi Madhoril Ibtida’ (hal. 251) dan Al Ustaz ‘Ali Fikriy dalam Al Muhadhorot Al Fikriyah (hal. 84) juga mengatakan bahwa yang mengadakan perayaan Maulid pertama kali adalah ‘Ubaidiyyun (Fatimiyyun).

Banyak sekali peristiwa luar biasa dalam menjelang kelahiran manusia termulia ini, yaitu diantaranya : runtuhnya 14 balkon istana kekaisaran Romawi, padamnya api kaum Majusi, hancurnya gereja-gereja, air Danau Sawah di Persia yang dikultuskan menyusut, tanah di kota Mekah tumbuh subur, bumi begitu bercahaya padahal di malam hari dan sebagainya. Ini semua karena kebanggaan bumi dan sekitarnya karena baginda Agung nabi akhir zaman akan lahir kedunia ini, yang mana sebelumnya terjadi percakapan antara bumi dan langit dengan menyombongkan kekayaan yang terdapat di dalamnya. Namun semua sirna ketika bumi membanggakan dirinya dengan hadirnya Nabi Muhammad Saw sebagai penduduk bumi.

Sebagai muslim tentunya kita bangga menjadi umat Nabi Muhammad Saw, meskipun kita belum pernah berjumpa, mendengar dan bertatap muka secara langsung dengannya. Namun seyogyanya beliau merindukan kita semuanya sebagai saudaranya, dikisahkan suatu ketika baginda Rasul menangis, sontak para sahabat pun bertanya, kenapa Engkau menangis wahai baginda Rasul ? ku ingin sekali berjumpa saudara-saudaraku.’

Mereka (para sahabat) berkata, ‘Wahai Rasulullah, bukankah kami saudaramu?’, beliau pun menjawab : bukan, kalian adalah sahabat-sahabatku, Saudara-saudaraku adalah mereka beriman kepadaku meskipun belum pernah berjumpa denganku.

 في مسند الإمام أحمد من حديث أنس بن مالك رضي الله عنه قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : وددت أني لقيت إخواني . قال : فقال أصحاب النبي صلى الله عليه وسلم : أو ليس نحن إخوانك ؟ قال : أنتم أصحابي ، ولكن إخواني الذين آمنوا بي ولم يروني

Beliau sangat merindukan sekali ummatnya, bahkan ketika ajal akan menjemput pun tak henti-hentinya memanggil ummatii, ummatii, ummatii dan tidak sampai disitu beliau pun menyampaikan kepada malaikat Jibril as jangan sampai sakitnya sakaratul maut ini ditimpakan kepada ummatku. Cukup hanya aku saja yang merasakan sakitnya sakaratul maut ini.

Baginda Agung, manusia yang sangat sempurna dan teladan semua sikap dan kata-katanya begitu merindukan kita sebagai ummatnya, lantas kenapa kita yang belum jelas mendapatkan tiket surga tidak merindukannya? Tidak mengamalkan perintahnya? Tidak bershalawat kepadanya? Padahal Allah Swt dan Malaikat juga bershalawat kepadanya, sebagaimana firmannya
إِنَّ ٱللَّهَ وَمَلَٰٓئِكَتَهُۥ يُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِيِّۚ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ صَلُّواْ عَلَيۡهِ وَسَلِّمُواْ تَسۡلِيمًا ٥٦

Artinya : “Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya. QS. Al – Ahzab : 56).

Adapun hikmah yang dapat kita ambil dari peringatan Maulid Nabi Muhammad Saw ini adalah sebagai berikut 

1.    Meneladani Nabi Muhammad dalam kehidupan, Sesuai Firman Allah :

لَّقَدۡ كَانَ لَكُمۡ فِي رَسُولِ ٱللَّهِ أُسۡوَةٌ حَسَنَةٞ لِّمَن كَانَ يَرۡجُواْ ٱللَّهَ وَٱلۡيَوۡمَ ٱلۡأٓخِرَ وَذَكَرَ ٱللَّهَ كَثِيرٗا ٢١
Artinya : “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah. (QS. Al-Ahzab::21)
 

Nabi Muhammad Saw diutus kedunia ini untuk menyempurnakan akhlaq, sudah jelas ayat diatas menyebutkan bahwasannya pada (diri) Rasulullah terdapat suri teladan baik untuk kita amalkan dalam kehidupan kita sehari-hari. Tentunya sesuai dengan kapasitas keilmuan, kemampuan dan bidang kita masing-masing. Contoh dan teladan dalam berbagai profesi : Sebagai santri atau pelajar, bahwasannya banyak hal yang beliau sampaikan dan contohkan terkait dengan kesungguhan dalam mencari ilmu, mencari ilmu wajib bagi kaum muslimin dan muslimat serta berakhlak yang baik kepada guru, orang tua juga lingkungan sekitar.

Sebagai orang tua, beliau banyak mengajarkan bagaimana menjadi orang tua yang baik dan bijaksana, lembut serta penuh dengan kasih sayang juga bertanggungjawab baik sandang, pangan, papan, pendidikan serta pilihan (pasangan hidup) untuk berkeluarga. Sebagai pejabat publik, beliau mengajarkan berkata yang baik atau lebih baik diam. Serta dengan tegas kalau Fatimah binti Muhammad mencuri, maka aku yang akan memotong tangannya

2. Meningkatkan Ibadah

Dengan diperingati Maulid Nabi Muhammad Saw setiap tahunnya, harusnya berdampak kepada keimanan dan kualitas serta kuantitas ibadah kita kepada Allah Swt. Jangan sampai gebyar dalam peringatannya akan tetapi esensi dan maknanya tidak berpengaruh kepada ibadah kita. Misalnya : shalat 5 waktu masih bolong-bolong, masjid megah tapi minim jamaah, meninggalkan baca al-qur’an, durhaka kepada orang tua dan sebagainya. Tak jarang dalam peringatan Maulid Nabi ini, mendatangkan para muballigh untuk memberikan tausiyah dan tentunya isi materinya pun bagaimana meningkatkan kecintaan kita kepada baginda Nabi Muhammad Saw. Kecintaan kepada Nabi bagian dari ibadah, maka sudah sepatutnya tidak hanya cukup untuk didengarkan akan tetapi diamalkan dan dibiasakan dalam kehidupan. Istiqomahkan amalan yang wajib, perbanyak amalan sunnah, perbanyak baca al-qur’an, menolong orang yang membutuhkan dan saling menasihati.

2.    Pebanyak Shalawat

Salah satu hikmah dari peringatan Maulid Nabi Muhammad Saw adalah memperbanyak shalawat kepada baginda Nabi, baik dilantunkan dengan rebana, marawis ataupun individu sebagai wirid harian. Adapun jenis dan macam-macam shalawat sangat banyak sekali, akan tetapi shalawat terbaik adalah shalawat yang biasa dibacakan dalam shalat ketika tasyahud akhir.


4. Menguatkan Ukhuwah Islamiyah

Sebagaimana tujuan awal diadakannya peringatan Maulid Nabi ini yaitu untuk memompa semangat juang kaum Muslimin dalam perang salib, maka terdapat misi untuk menguatkan ukhuwah Islamiyah yang sudah semakin kendor setiap harinya. Perpecahan antar bangsa, perbedaan madzhab, penistaan agama, fanatisme golongan dan sebagainya mewarnai berita kita setiap harinya. Harapannya umat yang sudah terkotak-kotak ini kembali kepada Al-qur’an dan sunnah nabi sebagai acuan dan pegangan hidup kita, sehingga dengan adanya peringatan Maulid Nabi ini dapat kembali merekatkan ukhuwah (persaudaraan) sesama muslim yang akan dirasakan oleh seluruh alam semesta Islam rahmatan lil alamin.

Demikian yang dapat kami sampaikan, mudah-mudahan dapat bermanfaat dan kelak kita semuanya mendapatkan syafaat udzma dari baginda Agung Nabi Muhammad Saw.