![]() |
MENGUATKAN SPIRIT BERQURBAN DAN KEPEDULIAN
SOSIAL
DEMI TERCIPTANYA PERDAMAIAN UMAT MANUSIA
Oleh : PUJIANTO, S.Th.I
Umat Islam yang berada di Tanah Air
menyambut Hari Raya Idhul Adha yang mulia dengan takbir, tahlil dan tahmid
sebagai ungkapan rasa syukur, sedangkan jutaan umat islam di tanah suci Mekkah,
Arafah dan Mina sedang berkonsentrasi menunaikan manasik haji. Mereka dating
dari berbagai pelosok dunia, dari berbagai bangsa dan suku, dari latar belakang
yang berbeda, menyatu dalam kepasrahan kepada Allah SWT. Mereka menanggalkan
segala atribut duniawi, meninggalkan berbagai aktivitas sehari-hari untuk
menghadap Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang dengan penuh khusyu’ dan
keikhlasan. Secara serentak, mereka mengumandangkan kalimat talbiyah :
لَبَّيْكَ
اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ، لَبَّيْكَ لاَ شَرِيْكَ لَبَّيْكَ، إِنَّ الْحَمْدَ
وَالنِّعْمَةَ لَكَ وَالْمُلْكَ لاَ شَرِيْكَ لَكَ
Artinya : “Kami penuhi panggilan-Mu wahai
Allah, wahai Allah kami datang memenuhi seruan-Mu, tiada sekutu bagi-Mu.
Sesungguhnya segala puji, nikmat dan karunia hanyalah milik-Mu, milik-Mu segala
kekuasaan dan kerajaan, tiada sekutu bagi-Mu”.
Pada
momen ini pula umat Islam yang mampu ditekankan untuk melaksanakan ibadah
kurban. Berbagi daging dan kebahagiaan kepada sesame. Menyembelih hewan ternak
seperti kambing dann sapi di Hari Raya Idhul Adha dengan tujuan mentasharufkan
sebagian harta kita untuk diberikan kepada orang lain, terutama yang membutuhkan.
Dari
sinilah kita semua belajar tentang kesetaraan manusia di hadapan Allah, tanpa
memandang jabatan, status sosial, latar belakang pendidikan, suku, bangsa serta
tingkatan kelas ekonomi. Ibadah kurban memberikan pesan kepada umat Islam tentang
pentingnya solidaritas sosial, empati terhadap orang lain, serta mengubur ego
pribadi untuk kemanfaatan bersama.
Diriwayatkan dari Abdullah bin Amr r.a
bahwa seorang laki-laki bertanya kepada Nabi SAW: “Ajaran Islam apakah yang
baik?” Nabi SAW menjawab :
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ
عَمْرٍو رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا : أَنَّ رَجُلاً سَأَلَ النَّبِيَ
صَلَّى الله عَلَيهِ وَسَلَّمَ أَيُّ الإِسْلاَمِ خَيْرٌ؟ قَالَ
: تُطْعِمُ الطَّعَامَ، وَتَقْرَأُ السَّلاَمَ عَلَى مَنْ عَرَفْتَ وَمَنْ لَمْ
تَعْرِفْ
Artinya : ““Dari
‘Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash Radhiyallahu anhuma bahwa ada seorang yang
bertanya kepada Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam, Apakah (amal dalam)
Islam yang paling baik? Maka Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“(Yaitu) kamu memberi makan (orang yang membutuhkan) dan mengucapkan salam kepada
orang (Muslim) yang kamu kenal dan kepada orang yang tidak kamu kenal.” (HR.
Bukari, No: 28, Muslim, No: 126).
Dari hadits di atas, sepintas kita
menyaksikan betapa agungnya nilai-nilai Islam yang sejalan dengan nilai-nilai
kemanusiaan dan keadilan. Tidak hanya masalah ibadah saja yang diajarkan Islam,
tetapi masalah-masalah kehidupan sosial pun menjadi sorotan. Hadis tersebut
mengajak umat Islam, bahkan umat manusia secara keseluruhan untuk memperhatikan
nasib masyarakat di sekitarnya. Tanggung jawabuntuk menyantuni orang-orang
lemah, fakir miskin yatim piatu, para manula dan mereka yang membutuhkan, tidak
hanya dilimpahkan kepada para pemimpin. Tetapi itu semua merupakan tanggung
jawab setiap orang yang mengaku dirinya sebagai muslim.
Jawaban
Rasulullah ketika ditanya seorang sahabatnya tentang amalan Islam apakah yang
paling baik, beliau langsung mengarahkan orang itu untuk memberikan bantuan dan
memasyarakatkan salam kepada siapa saja, baik pada orang yang dikenal maupun
pada orang yang belum dikenal sebelumnya. Bantuan tersebut bukan hanya berupa
dana atau makanan, tetapi juga menyangkut segala kebutuhan yang terjadi dalam
kehidupan sehari-hari, misalnya memberikan ilmu, pengalaman, nasihat, kebijaksanaan
dan sebagainya. Sedangkan menebar salam maksudnya memasyarakatkan suasana yang
damai dan saling mencintai antara sesame umat manusia.
Ketika
seorang muslim mendapatkan rezeki berupa harta yang cukup, ia harus ingat
saudara-saudaranya yang lain. Dengan kata lain, ia harus merasa empati pada
mereka. Islam memandang bahwa rezeki yang barokah adalah rezeki yang cukup
untuk diri sendiri dan orang lain, bukan rezeki yang banyak dan berlimpah
tetapi tidak barokah. Diriwayatkan dari Jabir bin Abdillah, Nabi SAW bersabda:
طَعَامُ الاِثْنَيْنِ كَافِى
الثَّلاَثَةِ ، وَطَعَامُ الثَّلاَثَةِ كَافِى الأَرْبَعَةِ
Artinya : “Makanan satu orang cukup untuk
dua orang, dan makanan dua orang cukup untuk empat orang”. (HR. Bukhari, No :
5392, Muslim, No : 2058).
Pengertian
hadis diatas menyebutkan bahwa makanan untuk satu orang dapat mencukupi dua orang,
makanan untuk dua orang dapat mencukupi empat orang dan seterusnya. Hadis ini mengarahkan
supaya setiap orang muslim memiliki kepedulian kepada mereka yang lemah dan
miskin, sehingga dapat mengantarkan mereka pada kehidupan yang layak. Selain
dari itu, hadisini mengisyaratkan juga agar setiap orang, mengkonsumsi makan
secara sederhana dan tidak berlebihan. Hal ini sangat berkaitanerat dengan pola
hidup sederhana dan kesehatan fisik maupun mental manusia. Mengonsumsi makanan
secara berlebihan akan mengantarkan seseorang pada kondisi tubuh yang tidak
sehat. Makan berlebihan dapat menyebabkan berbagai penyakit yang bisa merusak
fisik dan rohani manusia.
Seorang
muslim yang senantiasa menginfakkann sebagian rezekinya pada orang-orang yang
membutuhkan, akan merasa cukup dengan segala karunia Allah kepadanya. Meskipun
rezekinya tidak banyak, tetapi itu dirasakan sebagai suatu kecukupan yang tetap
ia syukuri. Hatinya selalu tentram dan hidupnya pun nyaman. Dengan
kedermawanannya, banyak orang yang bersimpati kepadanya dan berdoa untuk
kebaikan orang tersebut dalam segala kehidupannya. Inilah yang dimaksud dengan
keberkahan. Dalam hal memperoleh rezeki, umat Islam diarahkan agar meraih
keberkahan dari rezeki tersebut, bukan meraih banyak jumlahnya. Karena harta yang
banyak dan berlimpah kalau tidak disertai keberkahan akan menjadi sia-sia dan
bahkan akan menjerumuskan orang tersebut alam perilaku yang tercela.
Berbeda
halnya dengan orang yang kikir, tidak memiliki rasa empati terhadap sesame,
meskipun hartanya banyak dan berlimpah ruah, tetapi ia merasa hal itu masih
kurang dan tidak cukup baginya. Sehingga ia merasa berat untuk mengeluarakan
sebagian rezekinya pada mereka yang membutuhkan. Hidupnya selalu dikejar-kejar
oleh nafsu duniawi, seolah-olah ia ingin mencengkeram seisi dunia ini dengan
jari-jari tangannya. Akibatnya, ia hidup dengan prinsip semua orang harus
melayaninya bukan aku yang harus melayani mereka. Sikap demikian inilah yang
membuat hidupnya tidak barokah dan tidak pernah merasa cukup atas rezeki yang
ia dapatkan. Manusia seperti ini, digambarkan seperti orang yang meminum air
laut, semakin banyak diminum, merasa semakin haus dan dahaga.
Manusia sebagai makhluk sosial dipandang urgensi harus
memperhatikan nasib masyarakat yang berada di bawah garis kemiskinan yang lebih
sulit dan menderita dari dirinya. Ia harus empati dan iba untuk menolong dan
meringankan beban mereka. Jika hal itu terwujud, maka jurang kemiskinan piun
bisa diminimalisir dan angka gejolak sosial pun dapat ditekan. Dengan demikian,
masyarakat muslim akan sejahtera sesuai dengan tatanan dan tuntunan agamanya.
Alangkah agungnya ajaran Islam yang memandang semua umatnya adalah bersaudara
yang harus saling membantu dan menolong antara satu dengan yang lain. Bahkan,
lebih jauh lagi, Islam melalui sabda Rasulullah SAW memandang bahwa iaman
seseorang tidak sempurna sehingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia
mencintai dirinya sendiri.
عَنْ أَبِيْ حَمْزَةَ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ
خَادِمِ رَسُوْل الله عَنْ النَّبِي قَالَ : لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى
يُحِبَّ لأَخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ
Artinya : “Dari Abu Hamzah Anas bin Malik,
khadim (pembantu) Rasulullah, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, Beliau
berkata,Tidak sempurna iman seseorang sehingga ia mencintai
saudaranya seperti ia mencintai dirinya sendiri.” (HR. Bukhari, No: 13, Muslim,
No: 45).
Selain
menyerukan untuk empati atau solidaritas pada sesame, pengarahan berikutnya
dari hadis di atas adalah menyebarkan salam (perdamaian). Ia merupakan pesan
yang sangat tinggi bagi kemanusiaan berupa tegur sapa yang mengandung arti
perdamaian dan kesejahteraan. Karena mengandung nilai perdamaian dan
kesejahteraan, itulah ucapan tersebut harus disebarluaskan pada setiap orang
yang dikenal maupun yang tidak dikenal. Hidup yang damai dan sejahtera adalah
dambaan semua manusia yang beradab. Tidak ada seorangpun yang menginginkan
adanya kekerasan dan tindakan yang tidak berperikemanusiaan mengenai dirinya.
Oleh karena itu, Islam sebagai agama yang membawa rahmat untuk semesta alam
(rahmatan lil alamin). Sesuai namanya, juga menyerukan umatnya untuk menebarkan
perdamaian dan saling mencintai antar sesame manusia. Cinta kasih adalah modal
utama untuk mewujudkan hidup rukun, aman, dan tentram. Tetapi jika ada pihak
atau sekelompok manusia yang menginginkan untuk mencabik nilai-nilai yang
tinggi itu, maka Islam melalui sabda Nabi Muhammad SAW, dengan tegas menyatakan
bahwa mereka tidak akan memperoleh kesuksesan di dunia dan akhirat.
Demikianlah,
ajaran Islam yang paripurna dan senantiasa releva untuk diamalkan umat manusia
sampai akhir masa, demi mencapai kebahagiaan duniawi dan ukhrawi. Bangsa yang
berkeadaban adalah umat yang selalu memperhatikan nasib masyarakat sekitarnya.
Mereka dapat hidup tenang dan damai, jika masyarakatnya berkecukupan. Sebaiknya
mereka merasa gundah dan gelisah, jika masyarakatnya hidup susah. Hal ini
digambarkan Nabi SAW sebagaimana hadis dari Nu’man bin Basyir :
عَنِ
النُّعْمَانِ بْنِ بَشِير قَالَ: قَالَ رَسُولُ الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ: تَرَى المُؤْمِنِينَ فِي تَرَاحُمِهِمْ وَتَوادِّهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ
كَمَثَلِ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى عضْوًا تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ جَسَدِهِ
بِالسَّهَرِ والحُمَّى.
)رواه مسلم(
Artiya : “Dari An-Nu’man bin Basyir, ia
berkata, Rasulullah saw. Bersabda: “Kamu
melihat kaum mukminin dalam hal syang menyayangi, cinta mencintai, dan kasih
mengasihi, bagaikan satu tubuh, jika ada salah satu anggota tubuh yang sakit ,
maka anggota-anggota tubuh lainnya ikut merasakannya dengan tidak bisa tidur
dan merasa demam.” (HR. Bukhari, No : 6011, Muslim, No : 2586).
Sikap
dan cara pandang itulah yang harus kita usung bersama, yaitu solidaritas
terhadap sesama. Dalam nuansa Idul Adha, di balik merayakan kegembiraan dan
kemenangan kita dengan takbir, tahlil, tahmid, kita pun harus menengok
saudara-saudara kita yang masih hidup dalam garis kemiskinan. Kepada mereka,
kita ulurkan tangan. Untuk mereka, kita hentikan gaya hidup yang berlebihan.
Marilah kita berbagi dan empati dalam kerangka solidaritas sosial untuk bahu
membahu merealisasikan masyarakat yang mapan dan sejahtera.
Berkaitan
denagn hal inilah maka pada Hari Raya Idul Adha dan Hari-hari Tasyriq yaitu
tanggal 11, 12, 13 Dzulhijjah, diperintahkan kepada kita agar melaksanakan
ibadah kurban. Kurban itu diarahkan agar dilakukan secara ikhlas, semata
mengharap keridhaan Allah SWT. Sedangkan daging kurbannya diperuntukkan bagi
mereka yang hidup dalam kekurangan dan amat membutuhkan protein hewani.
Tidaklah akan sampai kepada Allah , darah dan daging kurban itu, yang sampai
kepada Allah adalah ketaqwaan. Sebagaimana Firman Allah :
لَن يَنَالَ ٱللَّهَ
لُحُومُهَا وَلَا دِمَآؤُهَا وَلَٰكِن يَنَالُهُ ٱلتَّقۡوَىٰ مِنكُمۡۚ كَذَٰلِكَ
سَخَّرَهَا لَكُمۡ لِتُكَبِّرُواْ ٱللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَىٰكُمۡۗ وَبَشِّرِ
ٱلۡمُحۡسِنِينَ ٣٧
