Kamis, 02 April 2020

MENGHADIRKAN EKSISTENSI SABAR DALAM SETIAP LANGKAH KEHIDUPAN (TINJAUAN RELEVANSI DALAM MENYIKAPI WABAH VIRUS CORONA)


Penyeberan wabah COVID – 19, semakin meluas dan meningkat jumlahnya. Dampak yang ditimbulkan juga luar biasa. Bagaikan terror, wabah ini telah menimbulkan ketakutan warga. Padahal ketakutan dan panik yang berlebihan sangatlah tidak diharapkan sebab dapat menimbulkan dampak yang mencekam.

Wabah ini tak dapat diatasi dengan tepat tanpa adanya sinergi yang baik antara individu, masyarakat dan Negara. Semua elemen tersebut harus berjuang bersama dalam menghadapi bencana dengan landasan yang sama dan satu yakni ketaqwaan kepada Allah. 

Bagi seorang muslim, yang beriman kepada Allah, tentunya harus senantiasa mengingat Allah. Memperkuat keyakinan bahwa Allah Maha Pencipta dan Maha Pengatur. Segala nsesuatu yang ia ciptakan wajib tunduk pada aturannya. 

Dalam menyikapi hal virus corona, setiap mukmin wajib meyakini bahwa makhluk micron tak kasat mata ini pun merupakan ciptaan Allah. Dan bahwasannya Allah telah menciptakan api yang mempunyai qodar membakar. Allah juga telah menciptakan manusia dengan qodar memiliki akal untuk memikirkan tanda-tanda kekuasaan Allah. 

Allah SWT dalam firmannya sering kali memperingatkan manusia untuk menggunakan akalnya dan memikirkan tanda-tanda kekuasaan Allah , lantas mengambil pelajaran darinya. 

“Maka apakah mereka tidak memperhatikan unta, bagaimana dia diciptakan? Dan gunung-gunung, bagaimana ditegakkan? Dan bumi, bagaimana ia dihamparkan? Maka berilah peringatan karena sesungguhnya kamu hanyalah orang yang memberi peringatan” (QS. Al – Ghosiyah : 17 – 21). 
Dibalik terciptanya wabah virus corona ini telah pasti bahwa manusia dengan kapasitasnya harus berupaya penuh memikirkan tentangnya. Memetik hikmah di balik penciptaan virus corona relevansinya membangun seberapa besarkah kapasitas keimanan seseorang dalam menyikapinya.

Adapun terkait dampaknya terhadap manusia bisa berasumsi baik ataukah justru buruk. Seorang mukmin wajib beriman bahwa segala sesuatu sudah ada ketetapan dari Allah. Maka dari itu , kita sebagai hamba Allah harus menyikapinya dengan sikap sabar untuk menghadapi wabah yang melanda negeri ini. Dalam pandangan Islam , Sikap Sabar mempunyai tiga Tingkatan, antara lai yaitu :

Point Pertama, Sabar dalam ketaatan yaitu menata diri untuk selalu mengerjakan perintah Allah dan menjauhi larangannya. Sabar dalam hal ini merupakan tingkatan sabar yang paling tinggi karena untuk melakukan suatu ketaatan dibutuhkan kemauan yang sangat kuat. Dalam konteks ini, kita menghadapi musibah wabah virus corona yang mematikan, kita harus selalu mengedepankan ketaatan pada Allah dengan jalan sabar dan shalat yang akan menjadi penolong untuk bebas dari cengkeraman wabah virus corona 

Point Kedua, Sabar terhadap maksiat yaitu selalu menahan diri untuk menjauhi larangan yang sudah dinashkan dalam agama islam. Barang kali dalam fenomena wabah virus corona ini sudah mempengaruhi bahkan merubah tatanan nilai – nilai sosial dimasyarakat dan mengguncang sendi-sendi perekonomian Negara akibat dari pemberlakuan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) sehingga bisa menimbulkan efek kriminalitas di masyarakat. Maka dari hal inilah sabar terhap maksiat harus selalu dikedepankan untuk menguji keimanan seorang mukmin. 

Point Ketiga, Sabar terhadap Musibah yaitu menahan diri dan tidak berkeluh kesah ketika terkena musibah. Relevansi di kehidupan nyata yang prioritasnya saat ini sedang dilanda musibah virus corona yang sampai detik ini banyak saudara kita yng meningal akibat terjangkit wabah ini. Oleh karena itu, kita sebagai mukmin sejati harus meyakini bahwa wabah ini juga ciptaan Allah dan otomatis juga bisa diatasi dengan pendekatan agam dan medis. 

Prinsip relevansi inilah yang menjadi peran utama seorang mukmin terutama dalam menyikapi wabah virus corona yang mana kita di tuntut untuk ikhtiyar lahir dan bathin. Dalam ikhtiyar ini mausia akan diminta pertanggungjawaban oleh Allah karena merupakan perbuatan yang berada pada area yang dikuasai manusia. Manusia dapat memilih akan mengerjakan ataukah meninggalkannya. Disamping segala ikhtiar yang dilakukan selebihnya seorang mukmin wajib bertawakal dan menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah.