KAJIAN KITAB HUSNUL BAYAN : RISALAH KEUTAMAAN NISHFU SYA’BAN
Oleh : PUJIANTO, S.Th.I
Penyuluh Agama Islam
KUA Kec.
Ngetos – Kantor Kementerian Agama Kabupaten Nganjuk
Tahun 2021
Allah swt telah memberikan keistimewaan pada
hari-hari tertentu dan tempat-tempat tertentu. Keistimewaan itu adalah berupa
ampunan dosa dan pahala ibadah yang lebih besar dibanding hari-hari atau
waktu-waktu biasanya. Misal saja, beribadah di Bulan Ramadhan lebih besar
pahalanya dibanding bulan-bulan biasanya. Shalat di Masjidil Haram juga
demikian, lebih besar pahalanya dibanding shalat di masjid biasa.
Di antara keistimewaan itu adalah
malam pertengahan bulan Sya’ban atau biasa orang menyebutnya malam Nishfu
Sya’ban. Malam yang bertepatan dengan tanggal 15 Sya’ban. Seorang ulama bernama
Syekh Abdullah Muhammad al-Ghimari menuliskan sebuah risalah yang menjelaskan
keutamaan-keutamaan malam tersebut. Risalah itu beliau namai dengan judul
Husnul Bayan fi Lailatin Nishfi min Sya’ban. Alasan beliau menulis risalah ini
adalah, karena setiap tahun banyak masyarakat yang menanyakan amalan serta
doa-doa malam Nisfu Sya’ban kepada beliau. Mulanya beliau hanya menjawab dengan
lisan atau menuliskan di beberapa majalah Islam. Begitu menyadari pertanyaan
itu akan dialaminya setiap tahun, Syekh Abdullah memutuskan untuk menuliskannya
dalam risalah kecil setebal 42 halaman. Risalah ini beliau tulis dengan
ringkas. Meski demikian, menurut beliau, pembahasannya padat, tidak bertele dan
memiliki banyak faedah. Risalah ini disarikan dari beberapa kitab-kitab besar
terkait. Seperti kitab Al-Idhah karya Ibnu Hajar al-Haitami, kitab Ma Ja’a fi
Syahri Sya’ban karya Al-Hafidz Abu al-Khatib Dihyah al-Andalusi dan Fi Lailatin
Nishfi karya Al-Ajhuri (seorang Syekh bermadhab
maliki).
Menurut Syekh Abdullah, keutamaan malam Nisfu Sya’ban ini sudah populer sejak dulu. Saat malam itu tiba, orang-orang akan menghidupkan malam dengan beribadah, memanjatkan doa dan membaca dzikir-dzikir. Meski begitu, menurut Syekh Abdullah, para ulama berbeda pendapat soal bagaimana prosedur yang tepat untuk menghidupkan malam mulia itu. Apakah bisa dilakukan dengan bersama-sama (berjama’ah) atau harus sendiri-sendiri? Apakah menambahkan ibadah di dalamnya termasuk bid’ah atau tidak? Semuanya memiliki argumen masing-masing. Melihat realita itu, Syekh Abdullah memilih pendapat yang tidak memberatkan. Mungkin, hemat penulis, Syekh Abdullah tidak ingin memberatkan masyarakat yang sudah mendarah daging melakukan amalan-amalan malam Nisfu Sya’ban. Sehingga beliau memilih pendapat yang tidak mengusik masyarakat. Beliau memilih untuk tidak membid’ahkan. Meskipun dalil-dalil tentang amalan malam Nisfu Sya’ban itu berupa hadis dha’if, atau bahkan mungqathi’, itu sudah dianggap cukup karena amalan malam Nisfu Sya’ban merupakan dari fadha’ilul a’mal (bentuk amal ibadah yang dianjurkan sebagai pendorong untuk mendekatkan diri kepada Allah swt).
Belum lagi dasar amalan malam Nisfu Sya’ban terdapat dalam hadis yang tercatat dalam Sahih Muslim. Tentu, menurut Syekh Abdullah, ini lebih menguatkan kebasahan amalan malam Nisfu Sya’ban itu. Hadis itu diriwayatkan dari Jabir bin Abdullah ra berikut:
وعن جابر - رضي الله عنه - قَالَ: سَمِعْتُ رسولَ اللهِ - صلى الله عليه وسلم - يقول: «إنَّ في اللَّيْلِ لَسَاعَةً، لاَ يُوَافِقُهَا رَجُلٌ مُسْلِمٌ يَسْألُ الله تَعَالَى خَيْرًا مِنْ أمْرِ الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ، إِلاَّ أعْطَاهُ إيَّاهُ، وَذَلِكَ كُلَّ لَيْلَةٍ». رواه مسلم
Dari Jabir ra. berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Sesungguhnya pada malam hari itu ada satu waktu yang tidaklah seorang muslim tepat pada waktu itu meminta kepada Allah kebaikan perkara dunia dan akhirat, melainkan Allah pasti memberikannnya kepadanya. Dan waktu itu ada pada setiap malam.” (HR Muslim) Melihat keumuman hadis ini, malam Nisfu Sya’ban masuk dalam kategori malam yang memiliki keistimewaan sebagaimana dimaksudkan dalam hadis. Sehingga wajar jika pada malam itu dianjurkan memperbanyak ibadah agar bisa meraih sesuatu yang dijanjikan: memperoleh doa yang pasti dikabulkan.
Sejarah
Praktik Peringatan Malam Nisfu Sya’ban
Mengawali pembahasannya, Syekh Abdullah
menjelaskan tentang sejarah peringatan malam Nisfu Sya’ban dan menjelaskan pula
mengapa bisa terjadi perbedaan pendapat ulama: ada yang membenarkan dan
mempraktikannya, ada pula yang membid’ahkannya. Pertama kali yang memperingati
malam Nishfu Sya’ban adalah dari kalangan Tabi’in penduduk negeri Syam, seperti
Kholid bin Ma’dan, Makhul, Luqman bin ‘Amir dan lain-lain. Mereka mengagungkan
malam itu dan memperbanyak ibadah di dalamnya. Hingga kemudian tersiar kabar
bahwa yang mereka lakukan itu bersumber dari atsar isra’iliyat (perkataan
sahabat yang sebenarnya adalah buatan orang Yahudi -pen). Setelah itu, ada dua
kubu yang menyikapi peringatan malam Nisfu Sya’ban. Sebagian mengikuti apa
yang dilakukan para tabi’in negeri Syam. Mereka adalah orang-orang Bashrah dan
yang lainnya. Sementara ulama penduduk Hijaz menentangnya dan menganggap
sebagai praktik bid’ah. Di antara penduduk Hijaz itu adalah Imam ‘Atha,
Ibu Abi Malikah dan para fuqaha dari kota Madinah.
Bentuk
Praktik Ibadah Malam Nisfu Sya’ban
Para ulama negeri Syam berbeda pendapat soal
bagaimana cara menghidupkan malam Nisfu Sya’ban. Sebagian dari mereka ada yang
memperingatinya dengan beribadah secara berjama’ah di masjid dengan mengenakan
pakaian terbaik, membakar kemenyan (untuk pengharum -pen), mengenakan sibak dan
menghidupkan malam dengan beribadah di masjid tersebut. Pedapat ini didukung
oleh Ishaq bin Rahaweh dan diunggulkan oleh Imam Al-Walid ra. Sementara
sebagian ulama Syam yang lain menghukumi makruh jika dilakukan berjamaah di
masjid dalam bentuk membaca kisah-kisah dan berdoa. Tapi jika shalat sendiri di
masjid untuk laki-laki, maka boleh. Ulama yang berpendapat demikian adalah Imam
Al-Auza’i, seorang imam bagi penduduk Syam saat itu.
Keutamaan Malam Nisfu Sya’ban dan Dalilnya
Selanjutnya, Syekh Abdullah melanjutkan
pembahasan keutamaan malam Nisfu Sya’ban dengan menyebutkan dalil-dalil yang
menjadi dasar keutamaan malam Nisfu Sya’ban tersebut, baik dalam bentuk hadis
maupun atsar sahabat. Ada 10 hadis yang beliau paparkan, di antaranya adalah
hadis di bawah ini:
إِذَا كَانَتْ لَيْلَةُ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَقُومُوا
لَيْلَهَا وَصُومُوا يَوْمَهَا، فَإِنَّ اللهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى يَنْزِلُ
فِيهَا لِغُرُوبِ الشَّمْسِ إِلَى السَّمَاء الدُّنْيَا،
فَيَقُولُ: أَلَا مِنْ مُسْتَغْفِرٍ فَأَغْفِرَ
لَهُ، أَلَا مِنْ مُسْتَرْزِقٍ فَأَرْزُقَهُ، أَلَا مِنْ مُبْتَلَى فَأُعَافِيَهُ،
أَلَا كَذَا أَلَا كَذَا حَتَّى يَطَّلِعَ الْفَجْرَ
Artinya: “Ketika malam Nisfu Sya’ban tiba, maka beribadahlah di malam harinya dan puasalah di siang harinya. Sebab, sungguh (rahmat) Allah turun ke langit dunia saat tenggelamnya matahari. Kemudian Ia
berfirman: “Ingatlah orang yang memohon
ampunan kepadaKu maka Aku ampuni, ingatlah orang yang meminta rezeki kepada–Ku
maka Aku beri rezeki, ingatlah orang yang meminta kesehatan kepada–Ku maka Aku
beri kesehatan, ingatlah begini, ingatlah begini, sehingga fajar tiba.”
Sementara atsar yang dikutip Syekh Abdullah
adalah riwayat Nauf al-Bikali, dia berkata, “Sungguh Ali pada malam Nishfu
Sya’ban beliau keluar (dari rumah) dan mengulanginya berkali-kali seraya
melihat ke langit. Beliau berkata:
:
إِنَّ
هٰذِهِ السَّاعَةَ مَا دَعَا اللهُ أَحَدٌ إِلَّا أَجَابَهُ، وَلَا اسْتَغْفَرَهُ
أَحَدٌ
فِي هٰذِهِ اللَّيْلَةِ إِلَّا غَفَرَ لَهُ، مَا
لَمْ يَكُنْ عَشَّارًا أَوْ سَاحِرًا أَوْ شَاعِرًا أَوْ كَاهِنًا أَوْ عَرِيفًا
أَوْ شَرْطِيًّا أَوْ جَابِيًا أَوْ صَاحِبَ كُوبَةٍ أَوْ غَرْطَبَةٍ. اَللهم
رَبَّ دَاوُدَ اغْفِرْ لِمَنْ دَعَاكَ فِي هٰذِهِ اللَّيْلَةِ وَلِمَنِ
اسْتَغْفَرَكَ فِيهَا
Artinya: “Sungguh saat ini tidaklah seseorang
berdoa kepada Allah melainkan akan Ia kabulkan, tidaklah seseorang memohon
ampunan kepada–Nya pada malam ini melainkan Ia akan mengampuninya, selama ia
bukan seorang ‘asysyar (penarik pungutan liar), tukang sihir, tukang syair,
tukang ramal, pengurus pemerintahan suatu daerah, tentara pilihan penguasa,
penarik zakat, pemukul genderang dan tambur.”
Doa Malam Nisfu Sya’ban
Berikutnya, setelah membahas dalil keutamaan
malam Nisfu Sya’ban, Syekh Abdullah menjelaskan doa yang biasa dibaca oleh
masyarakat pada malam Nisfu Sya’ban. Menurutnya, membaca yasin tiga kali dengan
niat khusus setiap selesai satu yasin, tidak memiliki dasar. Begitupun dengan
shalat hajat yang dilakukan setelahnya dengan niat tertentu. Syekh Abdullah
hanya merekomendasikan doa yang memiliki dasar dalam al-Quran. Berikut redaksi
doanya:
يَا ذَا الْمَنِّ وَلَا يُمَنُّ عَلَيْهِ، يَا
ذَا الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ، يَا ذَا الطُّولِ وَالْإِنْعَامِ، لَا إله إِلَّا
أَنْتَ ظَهْرُ اللَّاجِئِينَ، وَجَارُ الْمُسْتَجِيرِينَ، وَمَأْمَنُ الْخَائِفِينَ.
اَللهم إِنْ كُنْتَ كَتَبْتَنِي عِنْدَكَ (فِي أُمِّ الْكِتَابِ) شَـقِـيًا
أَوْ مَحْـرُومًـا أَوْ مَطْرُودًا أَوْ مُقْتَرًا عَلَيَّ فِي الرِّزْقِ، فَامْحُ
اللهم بِفَضْلِكَ شَقَاوَتِي وَحِرْمَانِي وَطَرْدِي وَإِقْتَارَ رِزْقِي،
وَأَثْبِتْنِي عِنْدَكَ فِي أُمِّ الْكِتَابِ سَعِيدًا مَرْزُوقًا مُوَفَّقًا
لِلْخَيْرِ فإنك تقول في كتابك الذي أنزلت (يَمْحُو اللهُ مَا يَشَاءُ وَيُثْبِتُ
وَعِنْدَهُ أُمُّ الْكِتَابِ)
Sementara sambungan doa setelahnya
adalah tambahan dari Syekh Ma’ul ‘Ainain as-Syinqithi. Berikut redaksinya:
لٰهِي بِالتَّجَلِّي الْأَعْظَمِ فِي لَيْلَةِ النِّصْفِ مِنْ شَهْرِ
شَعْبَانَ الْمُكَرَّمَ الَّتِي يُفْرَقُ فِيهَا كُلُّ أَمْرٍ حَكِيمٍ وَيُبْرَمُ،
أَسْأَلُكَ أَنْ تَكْشَفَ عَنَّا مِنَ الْبَلَاءِ مَا نَعْلَمُ وَمَا لَا نَعْلَمُ
، وَمَا أَنْتَ بِهِ أَعْلَمُ ، إِنَّكَ أَنْتَ الْأَعَزُّ الْأَكْرَمُ. وَصَلَّى
اللهُ تَعَالَى عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ
Selanjutnya, Syekh Abdullah membahas tentang penentuan nasib manusia yang terjadi pada malam Nisfu Sa’ban, tentang ampunan Allah yang turun, beberapa perbuatan dosa besar dan pembahasan terakhir mengenai praktik shalat yang dilakukan masyarakat saat malam Nisfu Sya’ban. Terkait shalat khusus yang dilakukan pada malam Nisfu Sya’ban, menurut Syekh Abdullah, adalah bersumber dari hadis-hadis palsu (maudhu’) dan tidak boleh diamalkan. Di antara hadis itu adalah,
مَنْ صَلَّى لَيْلَةَ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ ثِنْتَيْ عَشَرَ
رَكْعَةً يِقْرَأُ فِيْ كُلِّ رَكْعَةٍ ثَلاَثِيْنَ مَرَّةً قُلْ هُوَ اللهُ
أَحَدٌ شُفِّعَ فِيْ عَشَرَةٍ لَم يخرُجْ حتى يَرَى مَقعدَه من الجنةِ
