HISTORIS DAN HIKMAH MAULUD NABI MUHAMMAD
Oleh : PUJIANTO, S.Th.I
Penyuluh
Agama Islam KUA Kec. Ngetos
Kantor
Kementerian Agama Kabupaten Nganjuk
Tahun 2020
Maulid Nabi
Muhammad SAW adalah hari dilahirkannya nabi Agung baginda nabi Muhammad SAW
tanggal 12 Rabiul Awal hari senin tahun gajah. Dinamakan tahun gajah karena
tepat kelahiran beliau pasukan gajah yang dipimpin oleh Raja Abrahah menyerang
kota Mekah dan menghancurkan Ka’bah. Bahkan disebagian literatur yang
lain, Raja Abrahah menginginkan untuk memindahkan Ka’bah ke Yaman dimana dia
memerintah dengan alasan karena merasa iri dengan kota Mekah yang setiap saat
banyak orang berdatangan baik untuk menunaikan ibadah maupun sebagai pusat
perdagangan.
Peringatan maulid Nabi Muhammad
Saw di Indonesia bahkan di beberapa Negara yang lain pun sudah menjadi habit
atau kebiasaan di setiap tahunnya. Akan tetapi sebagian ulama ada yang
berpendapat bahwa hukumnya adalah bid’ah karena beralasan tidak ada sumber yang
jelas sanad hadistnya. Terlepas dari hukumnya tersebut bukan menjadi bahasan
penulis saat ini, silahkan bisa dibuka penjelasan dari Ustadz DR. H. Abdul
Somad, Lc, MA dalam bukunya 37 Masalah Populer “masalah ke 33” halaman 195
sudah sangat jelas beliau paparkan terkait hal itu. Adapun penulis sendiri
lahir dan dibesarkan di wilayah yang biasa melaksanakan peringatan hari besar
Islam ini.
Sejarah terkait awal mula Maulid Nabi pun berbeda-beda,
diantaranya : pertama, perayaan Maulid diadakan oleh kalangan Dinasti Ubaid
(Fathimi) di Mesir yang berhaluan Syiah Ismailiyah (Rafidhah). Kedua, Maulid
Nabi berasal dari kalangan ahlus sunnah oleh Gubernur Irbil di wilayah Irak,
Sultan Abu Said Muzhaffar Kukabri. Ketiga, perayaan Maulid Nabi diadakan
pertama kali oleh Sultan Shalahuddin Al Ayyubi. Pertama kalinya peringatan
Maulid Nabi ini ada pada point ketiga yaitu pada masa Sultan Shalahudin Al
Ayyubi dengan tujuan untuk membangkitkan semangat juang kaum muslimin dalam
perang salib melawan kaum kafir Eropa dalam merebut kembali Kota Yerussalem di
Palestina.
Kata Maulid itu sendiri diambil dari bahasa arab walada – yalidu (ولد يلد) artinya kelahiran, Maulid Nabi artinya hari dimana dilahirkannya baginda Nabi Muhammad Saw. Menurut keterangan dari al-Maqrizy dalam kitabnya yang berjudul al Khathat, perayaan Maulid dimulai ketika zaman Daulah Fatimiyah syiah di Mesir. Mereka membuat banyak acara perayaan Maulid, seperti Maulid Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Maulid 'Ali bin Abi Thalib, maulid Fatimah binti 'Ali, hingga maulid Hasan bin 'Ali dan Husain bin 'Ali. Bani Fatimiyah ini berkuasa sekitar abad 4 H.
Sedangkan
menurut sumber lain Maulid dikembangkan oleh Abul al-Abbas al-Azafi. Para ahli
sejarah, seperti Ibn Khallikan, Sibth Ibn Al-Jauzi, Ibn Kathir, Al-Hafizh
Al-Sakhawi, Al-Hafizh Al-Suyuthi dan lainnya telah sepakat menyatakan bahwa
orang yang pertama kali mengadakan peringatan maulid adalah Sultan Al-Muzhaffar. Namun juga terdapat pihak lain yang mengatakan bahwa
Sultan Salahuddin Al-Ayyubi adalah orang yang pertama kali mengadakan Maulid Nabi.
Sultan Salahuddin pada kala itu membuat perayaan Maulid dengan tujuan
membangkitkan semangat umat islam yang telah padam untuk kembali berjihad dalam
membela islam pada masa Perang
Salib.
Ahmad bin ‘Abdul Halim Al Haroni rahimahullah mengatakan,
صَلَاحِ الدِّينِ الَّذِي فَتَحَ
مِصْرَ ؛ فَأَزَالَ عَنْهَا دَعْوَةَ العبيديين مِنْ الْقَرَامِطَةِ
الْبَاطِنِيَّةِ وَأَظْهَرَ فِيهَا شَرَائِعَ الْإِسْلَامِ
Artinya:
“Sholahuddin-lah yang menaklukkan Mesir. Dia menghapus dakwah
‘Ubaidiyyun yang menganut aliran Qoromithoh Bathiniyyah (aliran yang jelas
sesatnya, pen). Shalahuddin-lah yang menghidupkan syari’at Islam di kala itu.”
Dalam perkataan lainnya, Ahmad bin ‘Abdul Halim Al Haroni rahimahullah mengatakan,
فَتَحَهَا مُلُوكُ السُّنَّة
مِثْلُ صَلَاحِ الدِّينِ وَظَهَرَتْ فِيهَا كَلِمَةُ السُّنَّةِ الْمُخَالِفَةُ
لِلرَّافِضَةِ ثُمَّ صَارَ الْعِلْمُ وَالسُّنَّةُ يَكْثُرُ بِهَا وَيَظْهَرُ
Artinya:
“Negeri Mesir kemudian ditaklukkan oleh raja yang berpegang
teguh dengan Sunnah yaitu Shalahuddin. Dia yang menampakkan ajaran Nabi yang
shahih di kala itu, berseberangan dengan ajaran Rafidhah (Syi’ah). Pada masa
dia, akhirnya ilmu dan ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam semakin
terbesar luas.”
Sumber
lain mengatakan perayaan Maulid yang sebenarnya diprakarsai oleh Dinasti
Fatimiyyun sebagaimana dinyatakan oleh banyak ahli sejarah. Berikut perkataan
ahli sejarah mengenai Maulid Nabi. Al Maqriziy, seorang pakar sejarah
mengatakan, “Para khalifah Fatimiyyun memiliki banyak perayaan sepanjang tahun.
Ada perayaan tahun baru, hari
‘Asyura, maulid (hari kelahiran) Nabi, maulid Ali bin Abi Thalib,
maulid Hasan dan Husain,
maulid Fatimah az-Zahra, maulid
khalifah yang sedang berkuasa, perayaan malam pertama bulan Rajab, perayaan malam pertengahan bulan Rajab, perayaan malam pertama bulan Sya’ban,
perayaan malam pertengahan bulan Rajab, perayaan malam pertama bulan Ramadhan,
perayaan malam penutup Ramadhan,
perayaan ‘Idul Fithri, perayaan ‘Idul
Adha,
perayaan ‘Idul Ghadir, perayaan musim dingin dan musim panas,
perayaan malam Al Kholij, hari Nauruz (Tahun Baru Persia), hari Al Ghottos,
hari Milad (Natal), hari Al Khomisul ‘Adas (3 hari sebelum paskah), dan hari
Rukubaat.”
Asy Syaikh Bakhit Al Muti’iy, mufti negeri Mesir dalam kitabnya mengatakan bahwa yang pertama kali mengadakan enam perayaan maulid yaitu: perayaan Maulid (hari kelahiran) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maulid ‘Ali, maulid Fatimah, maulid Al Hasan, maulid Al Husain –radhiyallahu ‘anhum- dan maulid khalifah yang berkuasa saat itu yaitu Al Mu’izh Lidinillah (keturunan ‘Ubaidillah dari dinasti Fatimiyyun) pada tahun 362 H. Begitu pula Asy Syaikh ‘Ali Mahfuzh dalam kitabnya Al Ibda’ fi Madhoril Ibtida’ (hal. 251) dan Al Ustaz ‘Ali Fikriy dalam Al Muhadhorot Al Fikriyah (hal. 84) juga mengatakan bahwa yang mengadakan perayaan Maulid pertama kali adalah ‘Ubaidiyyun (Fatimiyyun).
Banyak sekali peristiwa luar biasa dalam menjelang kelahiran
manusia termulia ini, yaitu diantaranya : runtuhnya 14 balkon istana kekaisaran
Romawi, padamnya api kaum Majusi, hancurnya gereja-gereja, air Danau Sawah di
Persia yang dikultuskan menyusut, tanah di kota Mekah tumbuh subur, bumi begitu
bercahaya padahal di malam hari dan sebagainya. Ini semua karena kebanggaan
bumi dan sekitarnya karena baginda Agung nabi akhir zaman akan lahir kedunia
ini, yang mana sebelumnya terjadi percakapan antara bumi dan langit dengan
menyombongkan kekayaan yang terdapat di dalamnya. Namun semua sirna ketika bumi
membanggakan dirinya dengan hadirnya Nabi Muhammad Saw sebagai penduduk bumi.
Sebagai muslim tentunya kita bangga menjadi umat Nabi Muhammad
Saw, meskipun kita belum pernah berjumpa, mendengar dan bertatap muka secara
langsung dengannya. Namun seyogyanya beliau merindukan kita semuanya sebagai
saudaranya, dikisahkan suatu ketika baginda Rasul menangis, sontak para sahabat
pun bertanya, kenapa Engkau menangis wahai baginda Rasul ? ku ingin sekali
berjumpa saudara-saudaraku.’
Mereka (para sahabat) berkata,
‘Wahai Rasulullah, bukankah kami saudaramu?’, beliau pun menjawab : bukan,
kalian adalah sahabat-sahabatku, Saudara-saudaraku adalah mereka beriman
kepadaku meskipun belum pernah berjumpa denganku.
في مسند الإمام أحمد من حديث أنس
بن مالك رضي الله عنه قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : وددت أني لقيت
إخواني . قال : فقال أصحاب النبي صلى الله عليه وسلم : أو ليس نحن إخوانك ؟ قال :
أنتم أصحابي ، ولكن إخواني الذين آمنوا بي ولم يروني
Beliau sangat merindukan sekali ummatnya, bahkan ketika ajal
akan menjemput pun tak henti-hentinya memanggil ummatii, ummatii, ummatii dan
tidak sampai disitu beliau pun menyampaikan kepada malaikat Jibril as jangan
sampai sakitnya sakaratul maut ini ditimpakan kepada ummatku. Cukup hanya aku
saja yang merasakan sakitnya sakaratul maut ini.
Baginda Agung, manusia yang sangat sempurna dan teladan semua
sikap dan kata-katanya begitu merindukan kita sebagai ummatnya, lantas kenapa
kita yang belum jelas mendapatkan tiket surga tidak merindukannya? Tidak
mengamalkan perintahnya? Tidak bershalawat kepadanya? Padahal Allah Swt dan
Malaikat juga bershalawat kepadanya, sebagaimana firmannya
إِنَّ ٱللَّهَ
وَمَلَٰٓئِكَتَهُۥ يُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِيِّۚ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ
ءَامَنُواْ صَلُّواْ عَلَيۡهِ وَسَلِّمُواْ تَسۡلِيمًا ٥٦
Artinya : “Sesungguhnya Allah dan
malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman,
bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya. QS.
Al – Ahzab : 56).
Adapun hikmah yang dapat kita ambil dari peringatan Maulid Nabi
Muhammad Saw ini adalah sebagai berikut
1.
Meneladani Nabi Muhammad dalam
kehidupan, Sesuai Firman Allah :
لَّقَدۡ
كَانَ لَكُمۡ فِي رَسُولِ ٱللَّهِ أُسۡوَةٌ حَسَنَةٞ لِّمَن كَانَ يَرۡجُواْ ٱللَّهَ
وَٱلۡيَوۡمَ ٱلۡأٓخِرَ وَذَكَرَ ٱللَّهَ كَثِيرٗا ٢١
Artinya : “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang
baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan)
hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah. (QS. Al-Ahzab::21)
Nabi Muhammad Saw diutus kedunia ini untuk menyempurnakan
akhlaq, sudah jelas ayat diatas menyebutkan bahwasannya pada (diri) Rasulullah
terdapat suri teladan baik untuk kita amalkan dalam kehidupan kita sehari-hari.
Tentunya sesuai dengan kapasitas keilmuan, kemampuan dan bidang kita
masing-masing. Contoh dan teladan dalam berbagai profesi : Sebagai santri atau
pelajar, bahwasannya banyak hal yang beliau sampaikan dan contohkan terkait
dengan kesungguhan dalam mencari ilmu, mencari ilmu wajib bagi kaum muslimin
dan muslimat serta berakhlak yang baik kepada guru, orang tua juga lingkungan
sekitar.
Sebagai orang tua, beliau banyak mengajarkan bagaimana menjadi
orang tua yang baik dan bijaksana, lembut serta penuh dengan kasih sayang juga
bertanggungjawab baik sandang, pangan, papan, pendidikan serta pilihan
(pasangan hidup) untuk berkeluarga. Sebagai pejabat publik, beliau mengajarkan
berkata yang baik atau lebih baik diam. Serta dengan tegas kalau Fatimah binti
Muhammad mencuri, maka aku yang akan memotong tangannya
2. Meningkatkan Ibadah
Dengan diperingati Maulid Nabi
Muhammad Saw setiap tahunnya, harusnya berdampak kepada keimanan dan kualitas
serta kuantitas ibadah kita kepada Allah Swt. Jangan sampai gebyar dalam
peringatannya akan tetapi esensi dan maknanya tidak berpengaruh kepada ibadah
kita. Misalnya : shalat 5 waktu masih bolong-bolong, masjid megah tapi minim
jamaah, meninggalkan baca al-qur’an, durhaka kepada orang tua dan sebagainya. Tak
jarang dalam peringatan Maulid Nabi ini, mendatangkan para muballigh untuk
memberikan tausiyah dan tentunya isi materinya pun bagaimana meningkatkan
kecintaan kita kepada baginda Nabi Muhammad Saw. Kecintaan kepada Nabi bagian
dari ibadah, maka sudah sepatutnya tidak hanya cukup untuk didengarkan akan
tetapi diamalkan dan dibiasakan dalam kehidupan. Istiqomahkan amalan yang
wajib, perbanyak amalan sunnah, perbanyak baca al-qur’an, menolong orang yang
membutuhkan dan saling menasihati.
2.
Pebanyak Shalawat
Salah satu hikmah dari peringatan
Maulid Nabi Muhammad Saw adalah memperbanyak shalawat kepada baginda Nabi, baik
dilantunkan dengan rebana, marawis ataupun individu sebagai wirid harian.
Adapun jenis dan macam-macam shalawat sangat banyak sekali, akan tetapi
shalawat terbaik adalah shalawat yang biasa dibacakan dalam shalat ketika
tasyahud akhir.
4. Menguatkan Ukhuwah Islamiyah
Sebagaimana tujuan awal diadakannya peringatan Maulid Nabi ini
yaitu untuk memompa semangat juang kaum Muslimin dalam perang salib, maka
terdapat misi untuk menguatkan ukhuwah Islamiyah yang sudah semakin kendor
setiap harinya. Perpecahan antar bangsa, perbedaan madzhab, penistaan agama,
fanatisme golongan dan sebagainya mewarnai berita kita setiap harinya.
Harapannya umat yang sudah terkotak-kotak ini kembali kepada Al-qur’an dan
sunnah nabi sebagai acuan dan pegangan hidup kita, sehingga dengan adanya
peringatan Maulid Nabi ini dapat kembali merekatkan ukhuwah (persaudaraan)
sesama muslim yang akan dirasakan oleh seluruh alam semesta Islam rahmatan lil
alamin.
Demikian yang dapat kami sampaikan, mudah-mudahan dapat
bermanfaat dan kelak kita semuanya mendapatkan syafaat udzma dari baginda Agung
Nabi Muhammad Saw.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar