Minggu, 28 Februari 2021

HISTORITAS DAN RASIONALITAS ISRA’ MI’RAJ

                              HISTORITAS DAN RASIONALITAS ISRA’ MI’RAJ

 

Oleh : PUJIANTO, S.Th.I

Penyuluh Agama Islam

KUA Kec. Ngetos – Kantor Kementerian Agama Kabupaten Nganjuk

Tahun 2021

 





Perjalanan Isra’ Mi’raj adalah perjalanan spiritual. Maka sebelum peristiwa itu terjadi, Allah terlebih dahulu menyiapkan sebuah peristiwa spiritual terhadap kekasihnya, Muhamma Pada suatu malam, Malaikat Jibril, Mikail, dan Israfil turun ke bumi, menghampiri Rasulullah. Dengan secepat kilat, ketiga malaikat perkasa itu langsung membawa Nabi ke sumur Zamzam di dekat Kak’bah dengan penuh kesantunan dan kelembutan. Mereka memohon kepada Nabi agar beliau berkenan menelentangkan tubuh demi mempermudah “ritual” pembelahan dada, yang akan dilakukan sebagai persiapan lahir-batin demi menjelajahi alam semesta yang tak pernah dialami oleh satupun makhluk di alam dunia (Al- Hasaniy, n.d., 133). Tak lama Mikail langsung membawakan wadah terbuat dari emas berisi Air Zamzam yang diminta Jibril . Dengan penuh khidmah, Jibril membasuh hati dan dada Nabi menggunakan air zamzam dalam wadah emas tersebut. “Segumpal darah hitam ini adalah bagian setan darimu, Ya Muhammad,” terang Jibril kepada Nabi. Setelah itu, Jibril mengeluarkan wadah yang penuh beirisi iman dan hikmah. Ia menuangkan seluruh isi dalam wadah tersebut ke hati Nabi, sehingga ilmu hikmah, ilmu yakin, dan Islam telah mengkristal dengan hati mulia Nabi Muhammad (Ad-Dardir, n.d., p. 4). Persiapan lahir-batin untuk menempuh dahsyatnya rihlah semesta dan menyaksikan tahta-Nya, dirasa sudah cukup. Jibril lantas mendatangkan seekor binatang putih bertubuh lebih besar dari keledai dan lebih kecil dari bagal, dengan dua sayap di antara kedua kakinya. Kendaraan itu bernama Buroq. Dengan gelora semangat yang tinggi, Nabi segera menunggangi Buraq. Rihlah menjelajahi semesta pun akan dimulai.

Menuju Masjid al-Aqsha Sementara Buraq melesat menuju utara dengan mengepak- ngepakkan dua sayapnya yang anggun, meninggalkan kota Mekkah. Dalam perjalanan ini, Jibril mengajak Nabi berziarah ke tempat-tempat bersejarah untuk sejenak “melupakan” keadaan Mekkah yang tak terkendalikan. Ia mengajak Nabi singgah sebentar ke sebuah tempat asri yang subur dengan kebun-kebun kurma. Lalu, ia memperseilahkan beliau melaksanakan shalat dua rakaat di tempat itu. “Tahukah dimana engkau tadi sedang shalat ?,” tanya Jibril membikin Nabi penasaran ketika beliau kembali menunggangi Buraq untuk melanjutkan perjalanan. “Tidak,” jawab Nabi singkat. “Engkau tadi shalat di negeri Taibah (negeri yang aman, damai, dan sejahtera), ke sanalah engkau bakal hijrah,” ungkap Jibril. Selesai shalat, Nabi kembali menunggangi Buraq. Begitu aba-aba telah diterimanya, secepat kilat ia melintasi sebuah gunung di semenanjung Mesir. Lantas Jibril kembali mempersilahkan beliau shalat di tempat itu. Seperti biasa, Jibril mengungkapkan nilai-nilai historis dari setiap tempat yang disinggahi Nabi. Selama dalam perjalanan ini, selama berada di atas punggung Buraq dengan kecepatan tak terkira, Nabi menjumpai dan diperlihatkan aneka kejadian aneh dan mengerikan (Khariq al-‘Adah). 

Aneh karena mungkin sekalipun tak pernah disaksikan dalam kehidupan nyata. Mengerikan sebab seandainya manusia biasa yang menyaksikannya mungkin akan tak sadar diri atau bahkan jantungnya berhenti berdetak. Kejadian-kejadian aneh itu juga dapat menjadi pelajaran berharga (‘ibrah) bagi umat Muhammad agar tidak terjerembab dalam kubangan lumpur dosa, dan semakin menghiasi diri dengan hiasan ibadah serta pengabdian secara tulus kepada-Nya. Tanpa terduga-duga, Nabi menyaksikan secara gamblang orang- orang aneh dengan tingkah laku yang aneh pula. Mereka membentur- benturkan kepalanya ke sebongkah batu besar. Secara ajaib, setiap kali kepala mereka pecah sepecah-pecahnya, seketika itu juga kepala itu langsung utuh kembali seperti sediakala, dan mereka membentur- benturkannya lagi seolah tak pernah merasa jera. “Siapa orang-orang itu, Jibril” tanya Nabi. “Mereka adalah orang-orang yang kepalanya merasa berat mengerjakan shalat fardhu,” jawab Jibril mengabarkan gambaran azab yang akan ditanggung oleh orang-orang yang tidak mengerjakan kewajiban shalat. Nabi Muhamamd juga melihat manusia-manusia dengan cakar- cakar panjang yang terbuat dari tembaga mencakar-cakar wajah dan dadanya sendiri sampai berdarah-darah. Lalu Jibril menjelaskan bahwa mereka adalah perwujudan dari kelompok manusia yang pernah menjatuhkan harga diri orang lain di depan publik. Dan, masih menurut Jibril, pemandangan aneh berupa seekor lembu yang muncul dari lubang kecil dalam sebongkah batu, adalah simbol dari seorang laki-laki yang pernah tergelincir melontarkan kalimat-kalimat yang memicu kontroversi. Ia menyesal telah berbuat demikian dan bermaksud mencabut ucapannya kembali. Namun, sebagaimana kata pepatah, nasi telah menjadi bubur, laki-laki itu tak akan pernah mungkin memperbaiki dan mencabutnya kembali.

Perjalanan Mikraj Melintasi Tujuh Langit

Jibril memeluk Rasulullah dan mencium bagian kening diantara kedua mata beliau sembari berucap, “Naiklah Muhammad ! engkau adalah tamu yang mulia dan akan menghadap Tuhan yang Maha Mulia.” Tanpa jeda yang lama Rasulullah dan Jibril melangkahkan kaki menaiki Mikraj. Begitu kedua kaki beliau tepat menginjak tangga yang pertama, tangga itu bergerak naik sendiri bagai sebuah eskalator. Dengan kecepatan tak terkira, tangga itu membawa Rasulullah dan Jibril terbang menembus awan, terbang tinggi ke angkasa menembus bintang-bintang , melayang tanpa henti hingga sampai di salah satu pintu dari beberapa pintu langit dunia yang bernama Bab al-Hafazhah (pintu para penjaga). Rasulullah dan Jibril kemudian memasuki pintu langit pertama. Begitu langkah kaki Rasulullah melewati pintu, terlihat seorang laki-laki berkulit kemerah-merahan, berwajah tampan, berbadan gagah. Di samping kanan lelaki itu terdapat sekawanan ruh manusia dan sebuah pintu yang menebarkan semerbak aroma wangi. Sementara, di samping kirinya ada kawanan ruh manusia dan sebuah pintu yang menawarkan bau nyinyir. Di tengah-tengah pemandangan yang membingungkan ini Rasulullah menyapa laki-laki itu dan mengucapkan salam. Ia pun membalas salam dan menyambut dengan santun kedatangan Rasulullah. “Siapa orang ini, Jibril,” tanya Rasulullah. “Dia adalah Bapakmu, Adam.

Para ruh manusia itu adalah anak cucunya,” jawab Jibril menjelaskan peristiwa yang membingungkan ini. Ketika memasuki pintu langit kedua, Rasulullah melihat dua pemuda sedang duduk santai di atas balai-balai yang terbuat dari permata yaqut. Mereka adalah Nabi Isa bin Maryam dan Nabi Yahya bin Zakaria. Kedua Nabi itu terlihat dikelilingi kelompok orang dari umatnya. Rasulullah menyapa keduanya dengan mengucapkan salam. Dengan santun, mereka berdua membalas salam dan menyambut kedatangan Rasulullah dengan berkata, “Marhaban, selamat datang saudara yang saleh dan nabi yang saleh”. Lalu, kedua Nabi itu malafalkan doa kebaikan untuk Rasulullah. Rasulullah lantas melanjutkan perjalanannya menuju langit ketiga. Disana beliau melihat seorang yang amat indah parasnya. Dibelakang orang tersebut, menyusul sekelompok orang yang tak lain adalah pengikut lelaki tampan tersebut. 

Keheranan muncul di benak Rasulullah, sehingga beliau bertanya, “Siapa dia wahai Jibril ?”. Jibril menjawab, “Dia adalah saudaramu Yusuf”. Kemudian Mikraj berlanjut ke langit keempat. Langit keempat dilewati dengan cara yang sama dengan langit sebelumnya. Pintu langit terkunci, Jibril mengetuk, malaikat penjaga pintu lantas membuka sembari menyambut kedatangan Rasulullah. Di langit keempat beliau berjumpa dengan Nabi Idris. Perjalanan berlanjut menembus langit kelima. Muncullah seorang lelaki berjenggot amat panjang, terurai hampir menyentuh pusar. Laki-laki itu terlihat dikerumuni kawanan manusia dari kalangan Bani Israil. Dengan suara yang jelas dan bahasa yang lugas, Rasulullah sempat mendengar ia tengah berkisah tentang sejarah umat Nabi terdahulu. Ia juga terlihat memberi untaian nasehat kepada para pengikutnya. “Siapa orang ini, Jibril?”. Jibril menjawab, “Ia adalah Nabi yang amat dicintai umatnya, Harun bin Imran”. Di langit keenam, peristiwa yang sama terjadi kembali. Rasulullah tertegun melihat seorang yang dikelilingi umat yang amat banyak jumlahnya. “Siapa dia wahai Jibril ?”. Jibril menjawab, “Beliau adalah Musa bin Imran”. Sekejap berlalu, mereka berdua telah meninggalkan Nabi Musa dan tiba di depan pintu langit ketujuh. Saat Rasulullah sampai di langit ketujuh. Lagi-lagi keajaiban enggan pergi dari pandangan beliau. Dengan mata telanjang beliau melihat Baitul Makmur, sebuah bangunan megah bagi istana. Tidak jauh dari bangunan itu ada pintu-pintu yang sepertinya menuju surga. Ketika tengah menikmati suguhan pemandangan yang ditawarkan langit ketujuh ini, Rasulullah dikejutkan dengan hadirnya seorang laki-laki yang memancarkan aura penuh wibawa, berada di dekat salah satu pintu menuju surga. Laki-laki itu terlihat sedang duduk di atas sebuah kursi emas dan menyandarkan punggungnya ke sisi Baitul Makmur. Rasa penasaran bergejolak di benak Rasulullah. Ia menampilkan wujudnya dalam bentuk suara melalui lisan beliau. “Siapa laki-laki ini, Jibril ?”. “Dia adalah Bapakmu” jelas Jibril yang lalu menyebut nama seorang nabi yang menjadi Bapak monoteisme, “Ibrahim ‘alaihi as-salam. Dia bersama sekelompok umatnya.” Seperti pertemuan dengan Nabi-nabi sebelumnya, ucapan salam kemudian saling terlantunkan diantara keduanya. Tetapi, setelah melafalkan beberapa doa kebaikan untuk Rasulullah, Nabi Ibrahim menitipkan sebuah pesan untuk disampaikan kepada umat Muhammad. “Perintahlah umatmu memperbanyak tanaman surga. Sungguhm tanah dan debunya makmur, subur, dan lapang,” pesan Nabi Ibrahim. “Apa yang anda maksud dengan tanaman surga ?” tanya Rasulullah. “Tanaman surga adalah zikir,” jawab Nabi Ibrahim.

Negosiasi dengan Allah

 Jibril mengantar Rasulullah sampai ke puncak Sidratul Muntaha, tingkatan di mana Jibril tak dapat melampauinya. Setelah tiba di tingkatan itu, Jibril yang sedari tadi menunggu kedatangan Rasulullah ini, langsung menyambut dengan menggenggam tangan beliau dan menariknya dengan penuh kelembutan. Secepat kilat, Rasulullah dan Jibril turun ke langit ketujuh dan bertemu Nabi Ibrahim kembali. Ucapan salam saling terlantun antara kedua Nabi itu. Jibrlil lantas turun membawa Rasulullah ke langit keenam. Berbeda dengan Nabi Ibrahim, di sini Nabi Musa menyambut kedatangan Rasulullah dengan menanyai apa saja yang terjadi di dalam pertemuan rahasia dengan Tuhan itu. “Apa yang Tuhan wajibkan kepadamu serta umatmu ?,” tanya Nabi Musa. “Dia mewajibkan kepadaku serta umatku shalat lima puluh kali dalam sehari semalam.” “Kembalilah kepada Tuhanmu. Mintalah keringanan untukmu dan umatmu. Sebab, umatmu itu lemah, tak akan mampu melaksanakan kewajiban shalat sebanyak itu. Sungguh aku telah menguji umatku, kaum Bani Israel, dan menangani mereka dengan penanganan yang lebih rendah dari yang diwajibkan kepada umatmu ini. Tetapi, kaum Bani Israel kenyatannya lemah dan meninggalkan kewajiban itu. Sedangkan umatmu justru lebih lemah dibanding Bani Israel, lebih lemah dalam semua segi ; lebih lemah fisiknya, jasadnya, dan badannya; lebih dapuh jiwa dan hatinya, lebih lemah pendengaran dan penglihatannnya,” saran Nabi Musa memberi pertimbangan.

Mendapat saran dan kritik ini, Rasulullah menoleh ke Jibril, meminta pendapat. “Iya, itu benar. Jika engkau menghendaki, maka kembalilah ke Tuhan,” kata Jibril, memberi pendapat. Rasulullah menerima saran itu, dan secepat kilat kembali menghadap Allah. Usai tiba dibawah singgasana-Nya (al-‘Arsy), beliau bersimpuh dan bersujud, lalu menengadah sembari bermunajat dengan penuh kerendahan, memohon keringanan. “Ya Rabbi, sesungguhnya umatku itu lemah, tak kuasa menunaikan shalat lima puluh kali dalam sehari semalam. Maka, ringankanlah beban umatku, Ya Rabbi.”

“Aku ringankan beban kepada mereka dengan dengan mengurangi lima shalat,” sabda Allah mengabulkan permohonan kekasihnya itu, dari kewajiban shalat 50 kali menjadi 45 kali. Rasulullah kembali turun menemui Nabi Musa, melaporkan bahwa Allah telah mengabulkan permohonannya, mengurangi lima shalat. Tetapi, untuk kedua kalinya, Nabi Musa menanggapinya dengan saran yang sama, meminta beliau untuk kembali menghadap Tuhan dengan memohon keringanan lagi. “Kembalilah kepada Tuhanmu. Mintalah keringanan untukmu dan umatmu. Sebab, umatmu itu lemah, tak akan mampu melaksanakan kewajiban shalat sebanyak itu.” Saran Nabi Musa lagi. Tanpa jeda lama, Rasulullah memutuskan kembali lagi menghadap Allah. Seperti permohonan sebelumnya, Allah mengabulkannya dengan mengurangi lima shalat, sehingga kewajiban menjalankan shalat kini menjadi 40 kali dalam sehari semalam. Keringanan ini lalu dikabarkan kepada Nabi Musa. Dan, dengan alasan yang sama, Nabi Musa memberi saran serupa kepada Rasulullah untuk kembali menghadap Allah memohon keringanan lagi. Lagi-lagi Rasulullah menerima saran Nabi Musa itu ; bersimpuh menghadap Allah memohon keringanan, lalu dikabulkan dengan dikurangi lima shalat lagi. Tiap kali Rasulullah selesai menghadap Allah, Nabi Musa tetap memberi saran yang sama pula, sehingga membuat beliau harus berungkali naik turun antara menghadap Allah dan melaporkan hasilnya kepada Nabi Musa.

Setiap kali permohonan keringananan jumlah kewajiban shalat itu, Allah mengabulkannya dengan mengurangi lima shalat. Begitulah, demi memikirkan umatnya, Rasulullah rela bolak-balik bersimpuh menghadap Allah dan meminta saran Nabi Musa untuk mendapatkan pilihan terbaik bagi umat terkasihnya. Ketika bersimpuh menghadap Allah yang kesembilan kalinya – jumlah shalat yang diwajibkan sudah berkurang menjadi 5 kali dalam sehari samalam – di bawah singgasana-Nya itu Rasulullah difirmani oleh- Nya : “Muhammad, sesungguhnya shalat itu lima kali dalam sehari semalam. Setiap satu kali shalat dilipatgandakan sepuluh, sehingga ia berarti lima puluh kali shalat. Keputusan-Ku tak dapat diubah dan ketetapanku tak dapat disalin. Maka, barangsiapa mendirikan kewajiban shalat lima waktu, ia akan masuk surga. Dan, barangsiapa ceroboh tidak mendirikannya, jika aku menghendaki pengampunan ma aku ampuni dia, dan jika aku menghendaki azab maka aku mengazabnya.” “Dan barang siapa bermaksud mengerjakan kebaikan, namun ia tidak mengerjakannya maka baginya ditulis pahala mengerjakan kebaikan, dan jika ia mengerjakannya maka baginya ditulis pahala mengerjakan sepuluh kebaikan. Dan barang siapa bermaksud mengerjakan kejelekan, namun ia tidak mengerjakannya maka baginya tidak ditulis apa-apa, dan jika ia mengerjakannya maka baginya hanya ditulis dosa mengerjakan satu kejelekan.” Setelah menyimak firman Allah yang penuh dengan makna kasih sayang bagi umat Muhammad ini, dengan puas Rasulullah undur diri dan kembali menemui Musa. Beliau melaporkan bahwa Allah telah menetapkan kewajiban shalat lima waktu dalam sehari semalam. Tetapi, saran dan kritik Nabi Musa tetap saja kukuh bagai karang. “Kembalilah kepada Tuhanmu. Mintalah keringanan untukmu dan umatmu. Sebab, umatmu itu lemah, tak akan mampu melaksanakan kewajiban shalat sebanyak itu,” saran Nabi Musa tak goyah sama sekali.

“Telah berulangkali aku kembali menghadap Tuhan, sampai aku merasa malu kepada-Nya. Aku sudah rela dan pasrah terhadap keputusan- Nya,” timpal Rasulullah berusaha melenturkan kekukuhan saran Nabi Musa. Di tengah-tengah suasana musyawarah di antara kedua nabi itu, tiba-tiba terdengar suara dengan penuh getaran wibawa menyahut entah dari mana ia bersumber, “Kewajiban telah Aku tetapkan, dan Aku pun telah memberikan keringanan bagi hamba-hamba-Ku.” Terang saja, pesan suara ini membuat Nabi Musa tidak bisa tidak untuk menyetujui dan merestuinya. Maka, Nabi Musa pun dengan penuh penghormatan mengucapkan kalimat perpisahan kepada Nabi Muhammad, “Jika demikian, turunlah ke bumi dengan menyebut nama Allah, wahai Nabi Muhammad. Dan, selamat jalan...” (Ad-Dardir, n.d., 24–25) Menyangkut perjalanan Mi’raj, Bukhari dan Muslim, antara lain, meriwayatkan bahwa ; a. Sebelum berangkat, Nabi saw dibedah dan dicuci hati beliau agar dipenuhi dengan iman. b. Disiapkan untuk perjalanan beliau satu kendaraan yang lebih kecil daripada kuda dan lebih besar daripada bagal yang dinamai Buraq. Langkahnya sejauh matanya memandang. c. Beliau diantar oleh malaikat Jibril dengan kendaraan itu dari langit pertama hingga langit ketujuh. Di setiap langit beliau bertemu dengan nabi/utusan Allah, bermula dari Nabi Adam, lalu Yahya dan Isa as., lalu di langit ketiga Nabi Yusuf, di langit keempat Nabi Idris, di langit kelima Nabi Harun, di langit keenam Nabi Musa, dan di langit ketujuh Nabi Ibrahim as. Dari sana beliau diantar oleh Malaikat Jibril ke Sidrah al-Muntaha. Disana terdapat enam sungai, dua diantaranya adalah sungai Nil dan Eufrat dan dua lainnya adalah sungai surgawi, lalu beliau menuju Bait al-Ma’mur. Setelah itu, masih menurut Nabi Muhammad saw : “Aku diberi pilihan tiga gelas berisi khamr (menuman keras), susu, dan madu. Maka kupilih susu.” Jibril menyatakan : “Inilah fithrah yang diwajibkan kepadamu dan umatmu.” Lalu diwajibkan kepadaku lima puluh shalat sehari semalam. Dalam perjalanan pulang, beliau bertemu lagi dengan Nabi Musa as yang bertanya tentang apa yang Nabi peroleh. Ketika Nabi menyampaikan bahwa ada kewajiban lima puluh kali shalat sehari semalam, Nabi Musa as. meminta Nabi Muhammad saw untuk memohon keringanan. Beliaupun kembali dan diringankan lima kali, tetapi ketika bertemu lagi dengan Nabi Musa, Nabi ini meminta Nabi Muhammad saw kembali meminta keringanan. Demikianlah diringankan lagi lima kali. Berulang-ulang Nabi saw bertemu dengan Nabi Musa dan berulang-ulang pula beliau kembali sehingga akhirnya tinggal lima kali sehari. Ini masih dianjurkan oleh Nabi Musa agar Nabi Muhammad memohon keringanan, tetapi beliau berkata : “Aku telah memohon kepada Allah berkali-kali sehingga aku malu. Aku rela dan menerima itu.” Ketika aku dalam perjalanan pulang kudengar suara menyatakan : “Telah Kutetapkan kewajiban yang Kubebankan dan telah Kuringankan buat hamba-hamba-Ku (Shihab, 2014: 446–447). Posibilitas Rasionalisasi Isra’ Mi’raj Isra' adalah perjalanan Nabi Muhammad Dari Masjidil Haram Makkah ke Masjidil Aqsa Palestina. Mi'raj adalah perjalanan dari Masjidil Aqasa ke Sidratul Muntaha. Kejadian itu terjadi pada 27 Rajab sepuluh tahun setelah kenabian. Siapa saja yang tidak percaya akan kejadian isra' mi'raj dianggap rumtuh imannya. Karena itu merupakan bagian iman kepada Alquran. Dalam QS. Al-Isra' telah dijelaskan bahwa isra' itu benar- benar terjadi. Sangat sulit nalar rasional mempercayai bahwa Nabi Muhammad pulang pergi dari Makkah ke Masjidil Aqsa hanya butuh satu malam. Karena pada masa itu, perjalanan dari Makkah ke Masjidil Aqsa butuh waktu satu bulan (Haris, 2015: 167–180). Mi'raj juga diperselisihkan. Sebagian meyakini isra' mi'raj itu hanya mimpi Nabi Muhammad. Tetapi dengan jelas dalam QS. An-Najm: 5-18, Allah telah menceritakan kejadiannya. Isra' mi'raj tidak akan dapat didekati secara rasional dan ilmiah. Peristiwa itu hanya bisa didekati dengan iman. Kepada Nabi Muhamamad, Allah memperlihatkan sebagian dari tandatanda Kebesaran-Nya. Kepada ummat Islam, pengalaman Nabi Muhammad berupa isra' mi'raj sebagai bagian dari keimanan.

 Karena umumnya pengalaman Nabi Muhammad adalah keimanan bagi kaum muslim. Misalnya Alquran, Nabi Muhammad mengalami datangnya wahyu. Kaum Muslim diperintahkan untuk beriman kepada wahyu tersebut. Dalam perjalanan isra'nya, Nabi Muhammad melihat bahwa dunia adalah seperti seorang perempuan tua yang sanga buruk, Iblis adalah seorang yang menempuh jalam nenyimpang, mujahidin adalah sekelompok yang menanam dan memetik dalam waktu singkat, penyulut fitnah adalah orang yang memotong lidahnya sendiri, pemakan riba adalah orang yang memakan daging busuk dan meninggalkan daging segar. Pada mi'raj, Nabi Muhammad melihat Malik penjaga negaka yang tidak pernah tersenyum, Baitul Makmur, keindahan surga dan kengerian neraka (Wazeri, 2014: 3). Hal penting lainnya adalah diterimanya perintah shalat. Begitu pentingnya shalat itu sehingga Nabi Muhammad diundang langsung untuk menerimanya. Perjalanan mi'raj yang membawa hadiah lima shalat saja tidak patut untuk ditinggalkan kaum Muslim. Bayangkan bila tidak dinegosiasikan, maka ada lima puluh shalat yang harus kita laksanakan sehari. Jadi isra' mi'raj lebih dari sekedar penghibur Nabi Muhammad dari duka kejahatan musyrikin Makkah, kematian istri tercinta Khadijah dan kematian paman tercinta, Abu Thalib. Pengalaman tersebut adalah bukti bahwa pengetahuan Nabi Muhammad telah mencapai pada derajat haqq yaqin. Itu adalah derajat pengetahuan tertinggi yang melalui pengetahuan yaqin, ilm al-yaqin, 'ayn yaqin.

Dengan derajat pengetahuan itu, Nabi Muhammad mampu melihat sesuatu yang dalam jangkaian pengetahuan kita hanya sebuah fenomena aksidental (Bosworth, 1993: 97–98). Karena keterbatasan inilah kita dituntut untuk mendekatinya dengan keimanan. Manusia tidak akan mampu mencapai tingkat derajat pengetahuan Nabi Muhammad. Pada saat ditanya tentang keadaan Masjid Al-Aqsa, maka Masjid itu terlihat langsung di hadapan Nabi Muhammad. Beliau mampu meceritakan detail kondisi masjid itu. Bagaimanakah itu bisa terjadi? Apakah kondisi masjid yang digambarkan Nabi Muhammad itu pada saat beliau bercerita atau setelahnya? Kenapa Nabi Muhammad mampu memiliki pengetahuan demikian? Dalam studi tasawuf filosofis, mampi para nabi adalah kejadian nyata (Chittick, 1997: 54). Dalam Alquran, mimpi para nabi diceritakan sebagai realitas yang nyata. Orang yang telah mencapai derajat yang tinggi dihadapan Allah akan mampu melihat fenomena yang dalam persepsi umum belum terjadi.Bahkan peristiwa yang dialami Adam di surga dianggap sebagai mimpinya Nabi Adam. Karena itu adalah mimpi para nabi, maka itu adalah realitas. Manusia tidak hanya hidup pada tingkatan alam materi saja. Banyak posisi alam lainnya manusia sedang hidup dan mengalaminya.

Tetapi karena rendahnya kesadaran, maka manusia menyangka dirinya hanya berada di alam materi. Banyak sekali spekulasi yang mengaitkan isra' mi'raj dengan dengan teori-teori sains modern seperti teori kuantum cahaya, relativitas Einstein, modulasi gelombang cahaya dan teori anihilisasi dan teori teleportasi (Einstein, 2010: 11). Sangat banyak spekulasi-spekulasi yang mengharapkan dapat diungkapkannya peristiwa isra' mi'raj agar masuk ke dalam pemahaman rasional. Tetapi semuanya gagal karena peristiwa besar itu tidak terjangkau oleh kemampuan manusia yang sanga terbatas, apalagi ingin dibatasi dalam segi empirik. Akhirnya yang terjadi adalah pencocok- cocokan. Misalnya ada teori tentang kecepatan cahaya. Cahaya dari Makkah ke madinah bisa sampai kurang dari satu detik. Tetapi apa hubungannya kecepatan cahaya itu dengan peristiwa isra' mi'raj. Selanjutnya dikemukakan teori Einstein. Dalam teori ini tidak ada yang pasti. Semuanya relatif menurut kondisi pengamat (Eistein, 2010: 18). Banyak lagi implikasi-implikasi teori relativitas Einstein. Itu juga tidak ada hubungannya dengan isra' mi'raj. Kalaupun Nabi Muhammad dari Makkah ke Masjidil Aqsa hanya menempu perjelanan dalam 0,005 detik, itu tidak penting. Karena dalam isra'nya, Nabi Muhammad sempat menemukan banyak hal dan berdialog tentang banyak tema dengan Jibril.

Kalau kecepatannya 0,005 detik menuju Masjid Alqsa? Apa gunanya? Apakah berbagai fenomena yang dilihat dan panjang lebar dialog dengan Jibril itu hanya butuh waktu 0,006 detik. Sehingga jelas isra’ mi’raj itu tidak akan berguna dan tidak akan mungkin dijangkau oleh penalaran rasional, apalagi pembuktian saintifik yang sifatnya menguji sesuatu secara empiris. Pengalaman isra’ mi’raj itu adalah mu’jizat akal. Karena itu, alih-alih untuk dibuktikan secara rasional, pengalaman itu adalah enagasan bahwa akal tidak akan mampu menjangkaunya. Isra’ mi’raj adalah mu’jizat akal, sehingga mustahil mampu dirasionalisasikan. Kalau dapat dirasionalisasikan, maka berarti peristiwa isra’ mi’raj itu yang tinduk kepada akal. Peristiwa isra’ mi’raj juga tidak dapat dianalisa dengan pendekatan saintifik. Pendekatan tersebut menggunakan eksperimen dan trial and eror. Bagaimana bias dieksperimentasikan kalau kejadian itu tidak aka nada lagi. Bagaimana dapat dilakukan pengujian terus-menerus bila kejadian tersebut hanya terjadi sekali dan tidak akan terjadi lagi. Jadi mustahil isra’ mi’raj dapat dianalisasa secara saintifik.

Islam adalah agama semurna yang diturunkan Tuhan kepada ummat manusia akhir zaman melalui Rasulullah Muhammad Saw. Untuk dijadikan landasan nilai dalam kehidupan. Prinsip ajaran Islam itu sebenarnya sesuai dengan prinsip nilai yang dimiliki manusia. Tetapi karena manusia memperlakukan Islam secara literalistic, maka Islam berubah menjadi agama yang terkesan ekslusif, intoleran dan bahkan radikal. Padahal Islam itu sendiri bermakna keselamatan dan kesejahteraan. Dalam memperjuangkan agama Islam, Nabi Muhammad melalui cobaan yang sangat berat. Agama kesejahteraan itu ditolak oleh masyarakat Makkah sehingga Nabi Muhammad dijadikan musuh bersama. Hanya sedikit orang yang konsisten dan berkomitmen membela perjuangan Nabi Muhammad. Orang-orang yang beriman kepada Allah dan Nabi Muhammad semakin bertambah imannya dengan mendengar cerita-cerita Nabi Muhammad tentang pengalamannya yang unik seperti isra’ mi’raj. Dalam pengalaman Isra’ mi’raj, Nabi Muhammad melihat segala macam pengalaman yang sangat berguna bagi manusia. Nabi Muhammad menunjukkan ciri-ciri orang yang berada di surga dan ciri-ciri orang yang berada di neraka. Dengan pengalaman tersebut, Nabi Muhammad dapat melihat esensi perbutan manusia. Banyak kalangan yang mencoba melakukan penelitian empiris dan rasional terdapap pengalaman tersebut. Tetapi yang terjadi hanya pencocok-cocokan teori-teori sains dengan isra’ mi’raj. Adapun pandangan yang paling masuk akal muncul dari kaum sufi falsafi. Merurut mereka, mimpi para nabi adalah realitas, bukan seperti mimpi manusia lainnya yang hanya merupakan pengalaman imajinatif dan keacakan memori pikiran

Tidak ada komentar:

Posting Komentar